Senin, 23 April 2012

Indikator Kinerja Organisasi Publik


Indikakor kinerja digunakan untuk menggambarkan capaian yang diperoleh oleh suatu organisasi publik. Definisi indikator kinerja adalah ukuran kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan (BPKP dalam Mahsun, 2006 : 71). Antara indikator kinerja dengan ukuran kinerja seringkali disamakan padahal keduanya mempunyai perbedaan makna. Sebagaimana yang ditetapkan oleh Mahsun (2006 : 71) yang menyatakan bahwa :
“Indikator kinerja (performance indicator) mengacu pada penilaian kinerja tdak secara langsung yaitu hal-hal yang sifatnya hanya merupakan indikasi-indikasi kinerja, sehingga bentuknya cenderung kuallitatif. Sedangkan ukuran kinerja (performance measure) adalah kriteria kinerja yang mengacu pada penilaian kinerja secara langsung, sehingga bentuknta kuantitatif. Indikator kinerja dan ukuran kinerja ini sangat dibutuhkan untuk menilai tingkat ketercapaian tujuan, sasaran, dan strategi.”
                
            Indikator kinerja sangat penting digunakan karena untuk mengetahui apakah suatu aktivitas atau program telah dilakukan secara efisien dan efektif. Pengunaan  indikator kinerja dalam setiap organisasi berbeda-beda satu sama lainnya.
            Dalam suatu organisasi, penilaian kinerja terhadap organisasi merupakan hal yang penting. Hal ini disebabkan antara kinerja dan penilaian kinerja merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan, seperti diungkapkan Mustopadjadja (2002 : 12)  menyebutkan bahwa ada beberapa jenis indikator yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pengukuran kinerja organisasi yaitu sebagai berikut :

1.      Indikator masukan (input) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjaan untuk menghasilkan keluaran, dapat berupa dana sumber daya manusia (pegawai). Informasi kebijakan atau peraturan perundangan dan sebagainya.
2.      Indikator proses adalah segala besaran yang menunjukan upaya atau aktifitas yang dilakukan dalam ranka mengolah masukan menjadi keluaran.
3.      Indikator keluaran atau (output) adalah segala sesuatu yang diharapkan langsung dipakai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik maupun non-fisik.
4.      Indikator hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan jangka menengah (efek langsung), hasil nyata dari keluaran suatu kegiatan.
5.      Indikator manfaat (benefit) adalah segala sesuatu yang teerkait dengan tujuan akhir dari pelaksanaan kegiatan, menggambarkan manfaat yang diperoleh dari indicator hasil, menunjukan hal-hal yang diharapkan untuk dicapai bila keluaran dapat diselesaikan dan berfungsi dengan optimal (tepat lokasi dan waktu).
6.      Indikator dampak (impact) adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun negatif dari manfaat yang diperoleh dari hasil kegiatan, baru dapat diketahui dalam jangka watu menengah tau panjang. Ini menunjukan dasar pemikiran dilakukannya kegiatan yang menggambarkan aspek makro pelaksanaan kegiatan, tujuan kegiatan secara sektoral, regional dan nasional.

            Pengukuran dan manfaat penilaiann kinerja organisasi dengan menggunakan indikator-indikator kinerja yang ada adalah akan mendorong pencapaian tujuan organisasi dan akan memberikan umpan balik untuk upaya perbaikan secara terus menerus (berkelanjutan). Senada dengan penjelasan di atas, indikator kinerja organisasi yang sama juga dijelaskan oleh Mahsun (2006 : 196)  dan oleh Bastian (dalam Tangkilisan, 2005 :175). Untuk menilai kinerja juga dapat melalui pendekatan “input-proccess-outputs” yang berarti apa yang terjadi dalam sebuah proses yang mengolah input menjadi output (Dharma, 2002:17) :

1.         Inputs meliputi masalah, informasi, waktu, teknologi, dan sebagainya.
2.         Proses ditekankan pada upaya/aktivitas yang dilakukan dalam rangka mengolah input menjadi outputs.
3.         Outputs ditekankan pada hasil langsung yang diharapkan dicapai dari kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing satuan organisasi.

            Dari pendapat di atas nampak jelas bahwa ukuran kinerja baik itu kinerja pegawai maupun kinerja organisasi sektor publik sangat bervariasi dan bersifat multidimensional. Dimensi-dimensi tersebut juga tidak bersifat mutually exclusive (berdiri sendiri), tetapi ternyata saling berhubungan dan saling melengkapi.
Baik tidaknya kinerja organisasi sangat ditentukan oleh berhasil tidaknya organisasi tersebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Kemudian menurut Widodo (2005 : 79) menjelaskan :
“Tercapainya tujuan organisasi tidak bisa dilepaskan dari sumber daya yang dimiliki oleh organisasi yang digerakkan atau dijalankan oleh sekelompok orang berperan aktif sebagai pelaku dalam upaya mencapai tujuan organisasi.”
 
Menurut Mohamad Mahsun, pengukuran kinerja Pemerintah Daerah diarahkan pada masing-masing dinas yang telah diberi wewenang mengelola sumber daya sebagaimana bidangnya. Dengan demikian perumusan indikator kinerja tidak bisa seragam untuk diterapkan pada semua dinas yang ada. Namun demikian dalam pengukuran kinerja setiap dinas harus tetap dimulai dari pengidentiifikasian terhadap visi, misi, falsafah, kebijakan, tujuan, sasaran, program, dan anggaran serta tugas dan fungsi yang telah ditetapkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar