Senin, 22 April 2013

MOBILITAS SOSIAL


Mobilitas sosial terbagi ke dalam dua sub yaitu mobilitas sosial yang berdimensi horisontal dan mobilitas sosial yang berdimensi vertikal. Mobilitas yang horisontal menurut definisi tidak menyebabkan perubahan status, sedangkan mobilitas vertikal adalah yang menyebabkan perubahan status. Dalam membicarakan mobilitas sosial di sini adalah ditekankan pada mobilitas yang bersifat vertikal. 
            Dalam mengkaji mobilitas vertikal, maka unit analisisnya ada tiga tipe mobilitas.
·        Mobilitas antar generasi, yang menjadi unit analisisnya adalah keluarga, dalam arti melihat tentang ada atau tidaknya perbedaan status sosial antara orang tua dan anak cucunya.
·        Mobilitas karir, yang menjadi unit analisisnya adalah individu dalam meniti kariernya.
·        Mobilitas posisional, yang menjadi unit analisis adalah kumpulan posisi yang sama dalam berbagai hal.
            Mobilitas vertikal akan mudah atau sulit terjadi sangat ditentukan pula oleh sifat struktur sosial sebuah masyarakat atau lebih tepatnya sistem stratifikasi yang ada. Dalam kaitan ini ada konsep yang disebut ketembusan (permeability), yaitu konsep yang mencerminkan bagaimana sifat struktur sosial tersebut. Derajat ketembusan sistem sosial sedikit banyak tergantung pada kemudahan masuk dan keluar dari posisi sosial tertentu. Derajat ketembusan masyarakat dianggap minimum apabila faktor kelahiran menentukan orang untuk memasuki, dan faktor kematian menentukan orang untuk keluar dari posisi sosial tertentu.
            Derajat ketembusan masyarakat dianggap tinggi apabila untuk masuk dan keluar dari posisi sosial tertentu tidak tergantung pada faktor kelahiran dan kematian. Pertanyaan yang dapat diajukan pada masyarakat adalah; mengapa ganjaran sosial diberikan kepada seseorang menurut status sosial ayahnya ? Jika ketergantungan tersebut sangat kuat, maka derajat ketembusan strata yang bersangkutan sangat rendah atau mendekati nol. Jika ketergantungan tersebut lemah, maka derajat ketembusannya mendekati titik maksimum. Jadi konsep ini memungkinkan kita menyusun khierarhi model stratifikasi menurut urutan derajat ketembusannya sebagai berikut.
1.  Model Kasta : derajat ketembusannya nol.
2.  Model strata : derajat ketembusannya rendah tetapi bukan  tidak ada. 
3.  Model kelas : derajat ketembusannya sekitar 40 % dari  maksimum.
4. Model kontinum (continuous) : derajat ketembusannya sekitar   80 % dari maksimum. 
5.  Model sederajat (egalitarian): derajat ketembusannya sempurna (maksimum)
            Ketembusan memang tidak sama dengan mobilitas sosial, namun keduanya sangat erat kaitannya. Sebagai gambaran untuk menjelaskan misalnya dalam masyarakat dengan derajat ketembusan maksimum, maka korelasi antara status bapak dan status anak adalah nol. Sebaliknya dalam masyarakat dengan derajat ketembusan minimum, maka korelasi antara status bapak dan status anak adalah +1.
            Mobilitas sosial menurun akan tercermin dari koefisien korelasi positif yang semakin meningkat dan akan diikuti oleh derajat ketembusan yang juga menurun. Sebaliknya, mobilitas sosial meningkat akan tercermin dari koefisien korelasi positif yang semakin menurun dan akan diikuti oleh derajat ketembusan yang juga meningkat. Dengan nilai koefisien korelasi +1, derajat ketembusan akan menjadi nol, dan mobilitas sosial akan menjadi nol. Singkat kata, derajat ketembusan berhubungan terbalik dengan nilai absolut koefisien korelasi yang menghubungkan antara status ayah dan anak. 
            Suatu pokok bahasan yang banyak mendapat perhatian ahli sosiologi ialah masalah mobilitas intragenerasi dan mobilitas antargenerasi. Mobilitas intragenerasi mengacu pada mobilitas sosial yang dialami seseorang dalam masa hidupnya; misalnya,dari status asisten dosen menjadi guru besar, atau dari perwira pertama menjadi perwira tinggi. Mobilitas antargenerasi, di pihak lain, mengacu pada perbedaan status yang dicapai seseorang dengan status orang tuanya; misalnya anak seorang tukang becak yang berhasil menjadi insinyur, atau anak menteri yang menjadi pedagang kaki lima. Suetu studi terhadap sejumlah dosen tetap dari lima perguruan tinggi negeri di Jawa, misalnya, memperlihatkan bahwa orang tua para dosen yang diteliti cenderung berpendidikan menengah, suatu petunjuk bahwa dikalangan para dosen tersebut telah terjadi mobilitas vertikal antargenerasi, mengingat bahwa para dosen tersebut telah meraih pendidikan tinggi yang merentang mulai dari jenjang sarjana sampai ke jenjang Doktor (Sunarto, 2000).
            Suatu studi yang sering menjadi bahan acuan dalam bahasan mengenai mobilitas antargenerasi ialah penelitian Blau dan Duncan terhadap mobilitas pekerjaan di Amerika Serikat. Kedua ilmuwan sosial ini menyimpulkan dari data mereka bahwa masyarakat Amerika merupakan masyarakat yang relatif terbuka karena di dalamnya telah terjadi mobilitas sosial vertikal antargenerasi, dan dalam mobilitas intragenerasi pengaruh pendidikan dan pekerjaan individu yang bersangkutan lebih besar daripada pengaruh pendidikan dan pekerjaan orang tua. Dengan perkataan lain, dalam tiap generasi telah terjadi peningkatan status anak sehingga melebihi status orang tuanya, dan dalam tiap generasi pun telah terjadi peningkatan status anak sehingga melebihi status yang diduduki pada awal kariernya sendiri.
            Pada masyarakat yang mempunyai sistem stratifikasi terbuka pergantian status dimungkinkan. Meskipun dalam masyarakat demikian terbuka kemungkinan bagi setiap anggota masyarakat untuk naik-turun dalam herarki sosial, dalam kenyataan mobilitas sosial antargenerasi maupun intragenerasi yang terjadi bersifat terbatas. Masih cukup banyak anggota masyarakatnya yang menduduki status yang tidak banyak berbeda dengan status orang tua mereka, dan selalu ada saja anggota masyarakat yang tidak berhasil meraih status sederajat dengan status yang pernah diduduki orang tuanya.

1.  Model Kasta

         Model kasta yang sempurna terdapat di dalam masyarakat yang setiap anak mewarisi tingkatan sosial ayahnya. Karenanya, dalam masyarakat seperti itu, seleksi sosial sama sekali akan ditentukan oleh asal-usul keturunan. Akta kelahiran seseorang sudah cukup untuk meramalkan karir orang bersangkutan. Mobilitas individual menaik dan menurun tak akan ada. Dalam kenyataannya, tidak ada masyarakat seperti itu yang pernah tercatat. Seluruh masyarakat yang kita ketahui menunjukkan derajat mobilitas sosial tertentu.
        Tetapi masyarakat tani India, sebelum terpengaruh oleh peradaban Barat, rupanya mengenal sistem sosial yang kira-kira lebih mendekati model kasta sempurna ketimbang sistem sosial lain mana pun yang kita kenal. Bahkan kini, desa-desa di India hampir tak mengenal perkawinan campuran antarkasta, dan larangan menikah antar anggota kasta yang setaraf saja pun masih sangat kuat. Bahkan hasil studi empiris di kawasan pedesaan dan urban di India, menunjukkan mobilitas pekerjaan yang sangat besar. Meskipun satu kasta mempertahankan monopoli penyediaan tenaga kerja untuk jenis pekerjaan tradisionalnya, namun anggota kasta itu masih dapat memasuki pekerjaan lain yang tidak dimonopoli oleh kasta lain. Begitu pula, dan ini penting, karena kita berhadapan dengan masyarakat dimana sebagian besar penduduknya hidup dengan bertani mengolah tanah, maka sesuai dengan pendapat Srinifas dalam Svalastoga (1965) pekerjaan di bidang pertanian ini tidak pernah dianggap sebagai sasaran monopoli. Karena itu, setiap anggota kasta, tanpa menghiraukan jenis pekerjaan tradisional kastanya, dapat membeli atau menyewa tanah dan terlibat dalam kegiatan pertanian. Bagaimanapun dengan sedikit kekecualian, tak ada orang India yang dapat meninggalkan suatu kasta atau masuk ke dalam kasta baru, dan status kastanya memberikannya dan anggota kastanya yang lain tingkatan tertentu di dalam hirarki kasta-kasta yang cenderung berubah secara lambat.
 2.  Model Strata
         Model ini ditandai oleh sistem stratifikasi dimana gerakan antara lapisan yang tak sama tingkatannya masih terjadi tetapi jarang. Karena ini adalah model teoritis, maka kita tentu saja dapat menentukan dengan bebas derajat ketembusan tertentu untuk membandingkan strata yang ada dalam masyarakat secara empiris. Misalnya, tingkat ketembusan dari model strata yang kita gunakan antara 5-10%.
        Perlu diingat bahwa masyarakat Swedia sekitar tahun 1650 menunjukkan tingkat ketembusan dari non-elite ke strata elite (elitenya sekitar 5% dari total penduduk) sekitar 1/12 dari tingkat ketembusan yang ada sekarang (Svalastoga, 1965).
         Secara empiris, model strata ini – seperti juga model kasta – secara khas terdapat dalam masyarakat agraris berskala luas dimana ada kemungkinan terdapatnya perbedaan besar dari luas usaha tani, dan menyediakan basis ekonomi yang cukup untuk mengkhususkan diri dalam pekerjaan militer.
 3. Model Kelas
        Istilah “kelas” atau “kelas sosial” adalah istilah yang paling membingungkan dalam sosiologi, karena para sosiolog masa lalu dan sekarang dengan sekehendak hati telah memberinya begitu banyak rujukan yang berbeda-beda. Perbedaan pendapat mengenai konsep kelas ini berpangkal pada dua perkara:
o       Kriteria apa yang harus digunakan dalam menentukan siapa yang termasuk ke dalam kelas sosial tertentu.
o       Bolehkah segolongan orang yang sama-sama memenuhi satu kriteria kelas (sosial) tertentu disebut sebagai kelas sosial dengan mengabaikan derajat interaksi mereka?
      Baik sosiolog Eropa maupun Amerika, telah mempersaingkan dua perangkat kriteria kelas utama sebagai berikut:
·        Kriteria yang mengacu pada kekayaan dan atau kekuasaan (misalnya Marx Schaffle, Bern Stein, Veblen, Lynd, dan lain-lain).
·           Kriteria yang mengacu kepada sikap atau kemampuan (misalnya Sombart, Giddings, Cooley, Warner, dan lain-lain).
Karya Marx sangat samar-samar mengenai persoalan kelas sosial muridnya yang mempelajari tulisannya tentang kelas sosial (lihat misalnya Ossowski dalam Svalastoga, 1965) telah mencatat bahwa Marx tidak pernah memberikan suatu definisi tentang kelas sosial di dalam tulisannya, dan dia sebenarnya menggunakan istilah itu menurut beberapa cara yang berbeda-beda. Lebih khusus lagi pada waktu yang berbeda Marx menulis karyanya dengan beberapa jenis klasifikasi dikhotomi (dwibagi):
kapitalis – proletariat; penindas – yang tertindas, dsb; dengan beberapa jenis pembagian trikhotomi bertingkat
·        borjuis atau kapitalis;
·        borjuis kecil, yang didefinisikan dengan berbagai cara proletariat; atau klasifikasi fungsional sbb:
·        pemasok tenaga kerja
·        pemasok kapital
·        pemasok tanah,
dan akhirnya yang mengacu kepada skema yang memuat penguraian yang lebih rinci juga muncul misalnya di dalam Manifesto Komunis.                                                    

4.  Model Kontinum

         Ciri umum ketiga model yang telah dibahas di atas adalah bahwa variabel-variabel yang digunakan selaku kriteria stratifikasi, terpisah dengan ciri-ciri yang sama sekali berbeda. Berarti bahwa setatus seseorang ditetapkan sama, atau berbeda nyata dan terpisah secara tajam dari status orang lain.
          Model kontinum ini membuang asumsi keterpisahan (discreteness) variabel kriteria stratifikasi. Model ini berasumsi bahwa sesorang yang berada pada status sosial tertentu ada kemungkinan untuk menemukan orang lain yang status sosialnya dekat sekali dengan status sosial dirinya sendiri, tanpa perlu menyamakan statusnya itu. Derajat ketembusan menurut model ini ditetapkan 80% dari maksimum, dengan sedikit penyimpangan (deviasi). Selanjutnya, rata-rata antarhubungan antarfaktor-faktor variabel-variabel stratifikasi adalah sekitar 0,5. Terakhir, diasumsikan bahwa sebaran semua faktor stratifikasi adalah normal (lognormal distributed). Inilah model yang saling mendekati kenyataan stratifikasi dan mobilitas sosial yang dialami masyarakat industri di dunia sekarang.
          Bukti terkuat yang mendukung pernyataan di atas adalah bahwa masyarakat industri modern yang membagi-bagi status sosial secara kontinum di sepanjang dimensi-dimensi utamanya, terlihat dalam kesulitan para peneliti untuk membagi anggota masyarakat itu ke dalam beberapa strata. Sama sekali belum pernah ada peneliti masyarakat industri modern yang mampu menunjukkan bahwa garis pemisah dalam hirarki sosial masyarakat industri modern bersifat diskontinum.
         Tes langsung hipotesis yang menyatakan bahwa variabel-variabel stratifikasi di dalam masyarakat industri modern bersifat kontinum, dilakukan oleh Kenkel dalam studinya di Colombus, Ohio (Cuber & Kenkel dalam Svalastoga, 1965). Dengan sampel 300 KK (N=300) Kenkel ingin mengetes apakah sampelnya itu tersebar menurut skala gengsi North-Hatt atau menurut nilai sewa rumah. Hasil tesnya menunjukkan bahwa di dalam distribusi yang terjadi, tidak ada pemisahan yang nyata. Upayanya untuk membuktikan hipotesis yang sama menurut gengsi kawasan pemukiman kurang meyakinkan karena klasifikasi yang digunakannya lebih bersifat impresionistis. 

5.  Model Egalitarian

          Masyarakat dapat dianggap mendekati model sederajat (egalitarian) sejauh mobilitas anggotanya berlangsung terlepas dari asal-usul sosial mereka. Model ini sangat mudah ditemui di dalam masyarakat yang relatif kecil dan di dalam masyarakat yang sisa produksi ekonominya kecil atau tak ada surplus di luar pemenuhan kebutuhan pokok anggotanya. Karena itu, model inilah yang sesuai dengan masyrakat purba yang hidup dari berburu dan mengumpulkan bahan makanan dari alam.
          Perlu dicatat bahwa meskipun suatu masyarakat sesuai dengan model egalitarian, itu tak berarti bahwa semua orang dinilai sederajat dalam masyarakat bersangkutan. Kesamaan tingkat atau kesederajatan serupa itu sebenarnya tak pernah ada dalam kehidupan kelompok yang stabil.
           Contoh yang bagus dari kesulitan yang timbul dalam mempertahankan kondisi yang kira-kira sederajat secara sosial dan ekonomi, disajikan Talmon-Garbier dalam Svalastoga (1965) dari hasil penelitiannya mengenai evolusi kerjasama para pemukim awal orang Yahudi di Israel yang dikenal bernama Moshov. Studi diselenggarakan tahun 1921-1930. Kelompok pemukim ini dengan sengaja dipertahankan tetap kecil jumlah anggotanya, solidaritas dipupuk, dan anggota baru di luar keluarga-keluarga asli, dipersatukan dengan menanamkan kesetiaan terhadap ideologi kesederajatan bersama. Anggota kelompok hanya dapat ditambah melalui persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 suara mayoritas. Semua lahan pertanian dibagi sama luasnya, semua orang mempunyai hak, hak istimewa dan kewajiban yang sama. Semua orang dilarang menggunakan tenaga kerja upahan dalam mengolah lahan. Seluruh petani, kecuali warga desa yang bukan petani, adalah anggota majelis umum, sedangkan anggota komisi dipergelarkan, dan tanggung jawab dibagi menurut banyaknya komisi – gunanya untuk mencegah terciptanya elite penguasa. Meskipun demikian, peneliti tiba pada kesimpulan bahwa di dalam komunitas pemukim ini telah berkembang diferensiasi sosial dan ekonomi. Keterampilan, ketekunan, keberuntungan dan jumlah tenaga kerja per-KK petani rupanya menjadi faktordiperlukan untuk menilai derajat ketembusan.  
 
Faktor-faktor yang menentukan mobilitas
            Tingkat perubahan sosial yang tinggi adalah penyebab utama mobilitas yang tinggi.  Khususnya 4 bidang perubahan sosial yang sangat penting adalah (1) perubahan teknologi; (2) tingkat reproduksi atau perbedaan tingkat migrasi; (3) perubahan kemampuan; dan (4) perubahan sikap.
            Upaya terpenting untuk mengukur pengaruh perubahan teknologi terhadap mobilitas dilakukan Kahl. Ia menyimpulkan bahwa sekitar 1/3 dari seluruh kasus mobilitas antargenerasi berkaitan erat dengan perubahan teknologi. Instrumen pengukuran yang digunakannya adalah skala status sosio-ekonomi Edward. Karena itu perubahan dari pekerjaan di sektor pedesaan ke pekerjaan di sektor perkotaan yang sering tidak menimbulkan perubahan gengsi pekerjaan (nol atau mendekati nol) termasuk ke dalamnya. Perkiraan Kahl (1957) didasarkan atas asumsi bahwa terjadi pergantian sempurna ayah oleh anak dalam periode 30 tahun. Duncan dalam Kahl (1957) menunjukkan bahwa sebenarnya terdapat tumpang-tindih yang sangat besar antara pekerjaan ayah dan anak dalam satu generasi. Di antara 47 juta laki-laki berumur 15-74 tahun dalam angkatan-kerja AS tahun 1960, 13 masih mempunyai ayah yang masih aktif bekerja. Sebaliknya, dari populasi yang sama, 15 juta orang telah aktif bekerja sejak tahun 1930. Tepat bila dikatakan bahwa jika pada waktu t1 terdapat n orang tenaga kerja, maka pada waktu t0 (30 tahun sebelumnya) mayoritas ayah mereka menjadi angkatan kerja (menurut taksiran Duncan, 75%). Yang penting, perlu diselidiki apakah taksiran Kahl itu perlu dimodifikasi, dan bila demikian di bagian mana yang perlu dimodifikasi mengingat terjadinya tumpang-tindih sebagian besar pekerjaan ayah dan anak itu.
            Yang terang adalah bahwa sampel ayah bukanlah sampel yang representatif dari angkatan kerja laki-laki di masa sebelumnya. Karena setiap laki-laki yang termasuk angkatan kerja pada waktu t0 akan mempunyai peluang tertentu bahwa ia akan diwakili oleh sejumlah anak tertentu di dalam angkatan kerja pada waktu t1. peluang ini bergerak dari 0-1 untuk setiap jumlah anak.
            Teknologi mempengaruhi mobilitas secara lebih langsung melalui dua pengaruh utamanya: meningkatkan skala dan diferesiansi fungsional. Data yang berasal dari industri manufaktur AS dan Inggris, mendukung hipotesis bahwa proporsi buruh yang tidak terlibat langsung dalam proses produksi meningkat bersamaan dengan meningkatnya ukuran organisasi. Temuan yang sama dilaporkan untuk distrik sekolah di California. Tetapi hasil studi yang lebih kemudian, rupanya tidak mendukung hipotesis itu. Bagaimanapun, peningkatan skala sukar dapat meninggalkan hirarki status yang berbeda karena kekuasaan yang lebih besar cenderung terkonsentrasi di tingkat puncak.
            Dengan meningkatnya diferensiasi fungsional, secara tersirat berarti bertambah luas jarak bakat yang dapat diberi ganjaran. Dalam masyarakat buta huruf tertentu, seseorang yang tidak mampu berburu, berdasarkan fakta itu, pada dasarnya tidak berguna. Bahkan di beberapa bangsa Eropa yang lebih kecil, orang yang bakatnya hanya diketahui oleh segelintir orang saja, akan berhadapan dengan berbagai kesukaran. Dalam masyarakat modern, kesempatan untuk mencapai ganjaran sosial yang tinggi, bermacam-macam.
            Stratum yang gagal mereproduksi dirinya sendiri, atau tidak mampu mereproduksi dirinya sendiri secepat yang dilakukan stratum lain, harus menerima pendatang dari luar untuk mempertahankan ukuran relatifnya. Demikianlah, Glass menaksir bahwa 30% angkatan kerja non-manual penduduk Inggris tahun 1950, hanya mempunyai indek reproduksi netto 1,07. Ini berarti bahwa peluang untuk naik dari stratum manual yang mencapai kenaikan 0,064, hanya karena perbedaan tingkat reproduksi, atau jika dinyatakan sebaliknya, 5% populasi total akan bergerak (mobile) karena faktor reproduksi ini. Hasil perkalian ini sesuai dengan taksiran Kahl untuk AS yang menunjukkan bahwa 7% angkatan kerja AS harus bergerak untuk mengimbangi perbedaan fertilitas, dan tidak semua yang bergerak ini mengalami mobilitas vertikal.
            Mobilitas-cateris paribus-adalah menguntungkan jika pendidikan anak-anak yang menyimpang dari pendidikan orangtua mereka. Korelasi sebenarnya antara pendidikan ayah dan anak dalam masyarakat industri, agaknya sama teraturnya dengan korelasi antara kecerdasan ayah dan anak, yakni r = 0,5. Tetapi penulis belum dapat menemukan data kuantitatif yang relevan. Analisis pendahuluan atas dasar dikhotomi yang penulis punyai sendiri menghasilkan koefisien korelasi r = 0,4.
            Setelah melampaui satu generasi, pengaruh perubahan pendidikan terhadap mobilitas sosial mungkin berkurang sejauh persyaratan pendidikan untuk posisi sosial tertentu meningkat sama cepatnya dengan pertumbuhan hasil pendidikan yang dicapai (Carlsson dalam Svalastoga, 1965). Lagi pula, pendidikan berbeda peranannya antara orang yang berasal dari stratum atas dan dari stratum bawah. Bagi orang yang berasal dari stratum atas, pendidikan membantu mencegah atau mengurangi peluang mobilitas ke bawah (penuruna status sosial). Bagi stratum bawah, pendidikan berperan meningkatkan gerak jarak sosial. Glass dan Hall melaporkan rata-rata perubahan jarak ke bawah 1,7 bagi orang yang berasal dari stratum atas dan berpendidikan tinggi (9% teratas). Penurunan serupa bagi orang yang stratum atas yang hanya berpendidikan SD adalah 2,5. orang yang berasal dari 2 strata terendah, meningkat statusnya rata-rata 2,3 unit jika memiliki pendidikan tinggi seperti yang didefinisikan di atas, tetapi hanya 1,3 unit jika mereka hanya berpendidikan setingkat SD.
      
Rangkuman
            Mobilitas sosial yang dibahas dalam bab ini adalah mobilitas yang bersifat vertikal. Mobilitas sosial tersebut akan mudah atau sulit terjadi dalam masyarakat tergantung bagaimana ketembusan (permeability)  struktur sosialnya. Struktur sosial dengan tingkat ketembusan yang tinggi akan memudahkan anggota masyarakat melakukan mobilitas dari pada di struktur sosial yang tingkat ketembusannya rendah. Atas dasar itu, maka masyarakat dapat dibagi ke dalam 5 macam yaitu model kasta, strata, kelas, kontinum, dan model sederajat.


Daftar Pustaka

Kahl, J.A. 1957,  The American Classs Structure,  Rinehart, New York.
Svalastoga, K, 1965, Social Differentiation, David McKay Company, Inc, Van Rees Press, New York.
MOBILITAS SOSIAL

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar