Showing posts with label Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Pertanian. Show all posts

Friday, June 7, 2013

Budidaya Tanaman Wortel, Serta Perhitungan Analisis Finansial


Background

Prospek pengembangan budidaya wortel di Indonesia sangat cerah. Selain keadaan agroklimatologis wilayah nusantara cocok untuk wortel, juga akan berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan petani, perbaikan gizi masyarakat, perluasan kesempatan kerja, pengembangan agribisnis, pengurangan impor sangat membantu petani wortel untuk memasarkan hasil pertaniannya ke pasar, dan mereka tidak bersaing dengan wortel impor.(Soewito, 1991 dalam Siti 2008).
Wortel atau Carrots (Daucus carota L.) bukan tanaman asli Indonesia, melainkan berasal dari luar negeri yang beriklim sedang (sub-tropis). Menurut sejarahnya, tanaman wortel berasal dari Timur Dekat dan Asia Tengah.Wortel termasuk sayuran bernilai ekonomis penting di dunia. Produksi wortel telah menjadi salah satu mata dagang komoditas pertanian antar negara. Peluang ekspor wortel antara lain pasar jepang.
Usahatani wortel dalam sistem agribisnis dapat memeberikan keutungan yang cukup tinggi. Potensi daya hasil wortel varietas unggul dapat mencapai antara 20 – 25 ton/hektar. Bila harga jual rata – rata Rp 350,00/ kg dengan biaya produksi sekitar Rp 3 – Rp 3,5 juta/hektar/musim, maka keuntungan bersih usahatani wortel selama ± 3 bulan dapat mencapai lebih dari Rp 3 juta/hektar. Bahkan akhir – akhir ini peluang pasar wortel makin luas dan beragam, di antaranya adalah dalam bentuk umbi segar, umbi beku segar, dan umbi muda segar. (Rukmana 1995)
Dari segi bisnis, wortel merupakan sayuran komersial hingga saat ini masih tetap menjadi andalan para pedagang. Hasilnya dapat berlipat ganda karena dalam penanamanya dapat ditumpangsarikan dengan tanaman sayuran lainnya. Sebagai sayuran yang komersial maka wortel termasuk komoditi yang mempunyai potensi yang cukup baik untuk di kembangkan.(Ali dan Rahayu, 1995).
Menurut Rahmat Rukmana (1995), “Propsek bertanam Wortel di Indonesia cukup cerah”. Selain keadaan agroklimatologis yang cocok untuk wortel, juga akan berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan pertanian, perbaikan gizi masyarakat, perluasan kesempatan kerja, pengembangan agribisnis, pengurangan impor dan peningkatan ekspor.
Tabel 1. Luas dan Produksi Tanaman Wortel Sayuran Kabupaten Wonosobo
pada Tahun 2006 – 2010









Tahun
Luas Lahan
Produksi






2006
167
2.537






2007
268
4.141






2008
394
5.116






2009
321
4.731






2010
354
5.238






Sumber : Badan Pusat Statistik, 2011






Berdasarkan Tabel 1 Produksi wortel pada tahun 2006 mencapai 2.537 ton/hektar, pada tahun 2007 produksi wortel mengalami kenaikan yang sangat drastis yaitu 4.141 ton/hektar, pada tahun 2008 hasil produksi meningkat hingga 5.116 ton/hektar, namun pada tahun 2009 hasil produksi mengalami penurunan hingga 4.731 ton/hektar, kemudian pada tahun 2010  produksi mengalamim kenaikan kembali hingga 5.238 ton/hektar.
Penurunan poduksi dikarenakan faktor cuaca, biaya produksi yang semakin mahal, lahan pertanian yang semakin tidak subur dan tidak sehat, serta penggunaan pestisida kurang bijaksana menjadi penyebab turunnya produktivitas wortel. Sementara peningkatan dalam jumlah produksi dapat dilatarbelakangi oleh banyaknya kegunaan dari tanaman wortel. Manfaat dari wortel antarlain dapat dijadikan sebagai bahan makan yang kaya vitamin A dalam menjaga kesehatan mata dan memelihara jaringan kulit.
Usahatani adalah organisasi dari alam, tenaga kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi pertanian. Petani sebagai pengelola usahatani termasuk pembiayaannya adalah seseorang yang membutuhkan dan berperan dalam perencanaan bisnis yang meliputi penyediaan dan pengalokasian dana, menciptakan dana melalui pengendalian sumber-sumber serta mengelolanya dalam kegiatan produksi seefektif mungkin. Dengan demikian petani tidak boleh salah langkah dalam tindakannya untuk mencapai tujuan produksi tersebut (Hernanto,2003).
Usahatani dapat dikatakan berhasil minimal harus dapat menghasilkan cukup pendapatan untuk membayar biaya semua alat yang diperlukan, bunga modal, upah tenaga kerja petani dan keluarganya yang digunakan untuk usahatani secara layak dan dapat mempertahankan keadaan usahatani sedikitnya berada dalam keadaan semula.
Tanaman wortel juga banyak di budidayakan di Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo. Secara geografis Luas Kecamatan Garung adalah 5.122,03 ha (512,20 km) atau 0,05 % dari luas Kabupaten Wonosobo, dengan komposisi tata guna atas lahan sawah seluas 288,76 ha (5,64%), tanah kering seluas 3.635,62 ha ( 70,98 % ), hutan negara 841,11 ha (16,42%), perkebunan negara / swasta seluas 109, 45 ha ( 2,14 %) dan lainnya seluas 247,09 ha (4,82 %). Hal ini sangat mendukung untuk pengembangan potensi unggulan kecamatan sebagai mata pencaharian masyarakat desa Mlandi Kecamatan Garung untuk membudidayakan tanaman wortel, dan juga sangat bagus untuk menanan tanman wortel cuaca juga sangat mendukung untuk berbudidaya wortel.

DAFTAR PUSTAKA
 
Cahyono.B, 2002.Wortel Teknik Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Kanisius,Yogyakarta
Data Produksi Tanaman Hortikulutura Kabupaten Wonosobo tahun 2006-2011.  Badan Pusat Statisitik Kabupaten Wonosobo.
Hernato,F. 2003.Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya.
Keliat, S. D. (2008). Analisis Sistem Pemasaran Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas          Sumatera Utara.
Kanisius.S.Y, dkk, 2004.Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran.Kanisius, Yogyakarta
Manalu, H. (2007). Analisis Finansial Usaha Tani Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.
Machfoedz, Mahmud. 2004. Kewirausahaan. UPP AMP YKPN. Yogyakarta.
Rini, D. K. (2010). Respon Penawaran Wortel (Daucus carota) Di Kabupaten Boyolali. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Rukmana, R, 1995.Bertanam Wortel. Kanisius, Jakarta
Rubazky V.E dan M. Yamaguchi, 1997.Sayuran Dunia 2 Prinsip Produksi dan Gizi. Edisi 2 ITB, Bandung
Rahayu.E dan N.V.Ali, 1995. Wortel dan Lobak. Penebar Swadaya, Jakarta
Siti, R. (2008). Analisis Usaha Tani Wortel di Desa Sukatani Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur.(Skripsi). Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Sholeh, M. (2012). Analisis Efisiensi Alokatif Pengunaan Faktor – Faktor Produksi Usaha Tani Wortel. (Skripsi). Malang: Universitas Brawijaya.
Soekartawi. 2002. Agribisnis Teori dan Aplikasi. Rajawali Pers. Jakarta.
Santi, Yenny M. 2009. Analisis Usaha Argoindustri Keripik Belut Sawah (Monopterus albuszuieuw) Di Kabupaten Klaten. Skripsi. Fakultas  Pertanian, Universitas Negeri Sebelas Maret         Surakarta. 75 hal (tidak dipublikasikan)
Sutrisno. 2009. Manajemen Keuangan. Ekonisia. Yogyakarta.
Setiawan. i, 1995. Sayuran Dataran Tinggi. Penebar Swadaya, Jakarta
Zhif dan Zacky. 2010. Budidaya Wortel. Blog.ub.ac.id. Di akses pada tanggal 20 Januari 2013

Aspek Botani Tanaman Wortel


1.      Taksonomi Tanaman Wortel
Wortel (Dancus carota L) bukan tanaman asli Indonesia, melainkan berasal dari luar negeri yang beriklim sedang. Tanaman wortel berasal dari Timur dekat (Asia kecil, Iran, Transcaucasia), Asia Tengah (Punjab, Kasmir, Afganistan, dan lain – lain). Tanaman ini ditemukan tumbuh liar sekitar 6500 tahun yang lalu (Rukmana, 1995)
Dalam sistem tumbuh – tumbuhan, tanaman wortel diklasifikasikn sebagai berikut:
Devisiso                : Spermatophyta
Sub devisio            : Angiospermae
Kelas                    : Dicotyledonae
Ordo                     : Umbelliferales
Family                   : Umbelliferae
Genus                    : Daucus
Spesies                  : daucus carota L
Wortel merupakan tanaman sayuran umbi semusim, berbentuk semak yang dapat tumbuh sepanjang tahun baik pada musim hujan maupun kemarau. Batangnya pendek dan berakar tunggang yang fungsinya berubah menjadi bulat dan memanjang. Waktu umbi kuning kemerah-merahan, mempunyai karoten A yang sangat tinggi, umbi wortel juga mengandung vitamin B, vitamin C dan mineral.
2.      Morfologi Tanaman Wortel
2.1 Daun
Daun wortel bersifat majemuk menyirip ganda dua atau tiga, anak-anak daun berbentuk lanset (garis-garis). Setiap tanaman memiliki 5-7 tangkai daun yang berukuran agak panjang. Tangkai daun kaku dan tebal dengan permukaan yang halus, sedangkan helaian daun lemas dan tipis.
2.2. Batang.
Batang tanaman wortel sangat pendek sehingga hampir tidak nampak, batang bulat, tidakberkayu, agak keras, dan berdiameter kecil (sekitar 1-1,5 cm). Pada umumnya batang berwarna hijau tua. Batang tanaman tidak bercabang, namun ditumbuhi oleh tangkaidaun yang berukuran panjang, sehingga kelihatan seperti bercabang.
2.3. Akar.
Tanaman wortel memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut. Dalam pertumbuhannya akar tunggang akan mengalami perubahan bentuk dan fungsi menjadi tempat penyimpanan cadangan makanan. Bentuk akar akan berubah menjadi besar dan bulat memanjang, hingga mencapai diameter 6 cm dan panjang sampai 30 cm, tergantung varietasnya. Akar tunggang yang telah berubah bentuk dan fungsi inilah yang sering disebut atau dikenal sebagai “Umbi Wortel”.
2.4. Bunga.
Bunga tanaman wortel tumbuh pada ujung tanaman, berbentuk payung berganda, dan berwarna putih atau merah jambu agak pucat. Bunga memiliki tangkai yang pendek dan tebal. Kuntum-kuntum bunga terletak pada bidang yang sama. Bunga wortel yang telah mengalami penyerbukan akan menghasilkan buah dan biji-biji yang berukuran kecil dan berbulu (Cahyono, 2007 dalam Keliat, 2008).
2.5. Umbi.
Wortel merupakan tanaman sayuran umbi semusim, berbentuk semak yang dapat tumbuh sepanjang tahun, baik pada musim hujan maupun kemarau. Batangnya pendek dan berakar tunggang yang fungsinya berubah menjadi bulat dan memanjang. Warna umbi kuning kemerah-merahan, mempunyai karoten A yang sangat tinggi, Umbi wortel juga mengandung vitamin B, Vitamin c dan mineral (setiawan, 1995).
Cahyono (2002) mengatakan bahwa pada awalnya hanya dikenal beberapa varietas wortel, namun dengan berkembangnya peradaban manusia dan teknologi, saat ini telah ditemukan varietas-varietas baru yang lebih unggul daripada generasi-generasi sebelumnya. Varietas-varietas wortel terbagi menjadi tiga kelompok yang didasarkan pada bentuk umbi, yaitu tipe Imperator, Chantenay, dan Nantes.
a.         Tipe Imperator memiliki umbi berbentuk bulat panjang dengan ujung runcing (menyerupai kerucut), panjang umbi 20-30 cm, dan rasa yang kurang manis sehingga kurang disukai oleh konsumen.
b.         Tipe Chantenay memiliki umbi berbentuk bulat panjang dengan ujung tumpul, panjang antara 15-20 cm, dan rasa yang manis sehingga disukai oleh konsumen.
c.         Tipe Nantes memiliki umbi berbentuk peralihan antara tipe Imperator dan tipe Chantenay, yaitu bulat pendek dengan ukuran panjang 5-6 cm atau berbentuk bulat agak panjang dengan ukuran panjang 10-15 cm.                Dari ketiga kelompok tersebut, varietas yang termasuk ke dalam kelompok chantenay yang dapat memberikan hasil (produksi) paling baik, sehingga paling banyak dikembangkan.

Syarat Tumbuh Tanaman Wortel


Di Indonesia wortel umumnya ditanam di dataran tinggi pada ketinggian antara 1000-1200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meskipun demikian wortel dapat pula ditanam di dataran medium yang ketinggiannya lebih dari 500 mdpl, namun produksi dan kualitasnya kurang memuaskan. Tanaman wortel membutuhkan lingkungan tumbuh yang suhu udaranya dingin dan lembab. Di negara-negara yang beriklim sedang (sub tropis) perkecambahan benih wortel membutuhkan suhu minimum 9°C dan maksimum 20°C. Namun untuk pertumbuhan dan produksi umbi yang optimal membutuhkan suhu udara antara 15,6° - 21,1°C. Suhu udara yang terlalu tinggi (panas) seringkali menyebabkan umbinya kecil-kecil (abnormal) dan warnanya pucat atau kusam. Sebaliknya bila suhu terlalu rendah (sangat dingin), maka umbi yang terbentuk menjadi panjang dan kecil (Setiawan, 1995).
Tanaman wortel ditanam sepanjang tahun, baik musim hujan maupun kemarauasalkan kebutuhan airnya tercukupi. Karena itulah komoditi selalu tersedia setiap saat dipasaran. Umur panen wortel tergantung pada jenisnya. Pada umumnya tanaman wortelvarietas local dapat dipanen setelah berumur sekitar 3 bulan atau 90-97 hari setelahtanam, biasanya pada saat daun tua berjumlah 3-5 helai. Wortel varietas hibrida sepertired sky dan terracotta dipanen pada umur 100-125 gr per buah, panjang sekitar 15 -20cm, diameter umbi 2-4 cm. Untuk menjaga agar hasil panen tidak menurun mutunya,berkayu dan rasanya pahit, sehingga tidak disukai oleh konsumen dan akan menurunkan harganya. Tanaman wortel yang terawat dengan baik dapat menghasilkan 20-30 ton umbi segar per hektar (Kanisius, 1992).

Teknik Budidaya Tanaman Wortel


1.      Persyaratan Benih dan Penyiapan Benih.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sumber benih yang menjadi bibit harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Tanaman tumbuh subur dan kuat.
b) Bebas hama dan penyakit/sehat.
c) Bentuknya seragam.
d) Dari jenis yang berumurpendek.
e) Berproduksi tinggi.
Duryatmo, 2006 dalam (Keliat, 2008), mengatakan bahwa Wortel dikembangkan dengan bijinya. Biji ini disemaikan ditanah yang subur dan genbur. Bila tanahnya tidak gembur akan terbentuk umbi yang tidak sempurna. Zacky dan Zhif (2010), menambahakan cara penyemaian benih yang baik yaitu Biji wortel yang ditaburkan langsung ditempat penanaman, dapat disebarkan merata di bedengan atau dicicir memanjang dalam barisan. Jarak barisan paling tidak 15 cm, kemudian kalau sudah tumbuh dapat dilakukan penjarangan sehingga tanaman wortel itu berjarak 3-5 cm satu sama lain. Kebutuhan benih untuk penanaman setiap area antara 1500-200 gram. Para petani sayuran jarang menggunakan lebih dari 10 kg benih untuk tiap hektar. Biji wortel akan berkecambah setelah 8-12 hari.


2.      Penyiapan Lahan
Lokasi untuk kebun wortel sebaiknya sebaiknya dipilih lahan bukan bekas tanaman sefamili, seperti Petroseli ataupun Seledri. Paling baik adalah lahan bekas tanaman kubis, kentang dan sayuran lain agar tanahnya masih subur, sehingga tidak mutlak perlu menambahkan lagi pupuk organik (anonim).
a.     Persiapan Lahan
1.  Mula – mula tanah di cangkul sedalam 40cm, dan diberi pupuk kandang atau kompos sebnayak 15 ton setiap hektarnya. tanah yang telah diratakan dan dibuat alur sedlam 1 cm dan jarak antara alur 15-20 cm.
2.    Areal yang akan di jadikan kebun wortel, tanahnya diolah cukup dalam dn sempurna, kemudian diberi pupuk kandang 20 ton/ha, baik dicampur maupun menurut larikan sambil meratkan tanah. Idealnya dipersiapkan dalam bentuk bedengan – bedengan selebar 100cm dan langsung dibuat alur – alur/ larikan jarak 20 cm, hingga siap ditanam.
b.    Pembukaan Lahan.
1.    Membuka Lahan.
Babat pohon – pohon atau semak – semak maupun tanaman lain yang tidak berguna. Bersihkan lahan dari rumput – rumput liar (gulma), batu kerikil dan sisa tanaman lain.
2.    Mengolah Tanah.
Olah tanah sedalam 30-40 cm hingga strukturnya gembur dengan alat bantu cangkul, bajak traktor. Biarkan tanah di kering anginkan selama minimal 15 hari, agar keadaan tanah benar – benar matang.
c.     Pembentukan Bedengan .
Olah Tanah untuk kedua kalinya dengan cangkul hingga struktur tanah bertambah gembur. Buat bedengan – bedengan dengan ukura lebar 120 – 150 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antara bedengan 50-60 cm dan panjang tergantung pada keadaan lahan.
3.      Penanaman.
Benih wortel langsung di tanam (disebar) di kebun tanpa melalui persemaian terlebih dahulu. Waktu tanam wortel yang paling baik adalah pada awal musim hujan. Meskipun demikian, dapat saja wortel di tanam sepanjang musim atau tahun asalkan keadaan airnya memadai.
Untuk memudahkan penaburan benih, sebaiknya di lakukan pencampuran benih wortel dengan pasir (1:1). Tatacara penanaman (penaburan) benih wortel sebagai berikut:
a.     Sebarkan (taburkan) benih wortel secara merata dalam alur – alur atau garitan –
garitan yang tersedia.
b.    Tutup benih wortel dengan tanah tipis sedalam 0,5 – 1 cm.
c.     Buat alur – alur dangkal sejauh 5 cm dari tempat benih arah barisan (memanjang)
 untuk meletakan pupuk dasar. Jenis pupuk yang diberikan adalah campuran TSP ±
400 kg (± 200 kg P2 O5 /ha) dengan KCL 150 kg (± 75 kg K2 O/ha).
d.    Sebarkan pupuk tersebut secara merata, kemudian tutup dengan tanah tipis.
e.     Tutup tiap garitan (alur) dengan dedaunan kering atau pelepah daun pisang selama 7-10 hari untuk mencegah hanyutnya benih wortel oleh percikan (guyuran) air sekaligus berfungsi menjaga kestabilan kelembaban tanah. Setelah benih wortel tumbuh di permukaaan tanah, penutup tadi segera dibuka kembali.
Pertumbuhan awal tanaman wortel berlangsung lambat karena kemunculan kecambah dapat beragam dari 7 sampai lebih 20 hari, dan daun sejati pertama tidak berkembang hingga 3-4 minggu setelah tanam. Pertumbuhan yang lamabat ini akan menyebabkan tanaman wortel tidak dapat bersing dengan gulma yang tidak dikendalikan, dapat dengan mudah mengalahkan kecambah wortel. Akar tunggang, awalnya panjang, ramping, tumbuh vertikal, mulai memanjang dengan cepat dan mencapai panjang potensialnya dalam 12-24 hari setelah berkecambah (Rubatzky et.al, 1998).
4.      Pemiliharaan Tanaman
a.     Penyiraman
Pada fase awal pertumbuhannya, tanaman wortel memerlukan air yang memadai, sehingga perlu disiram (diairi) secara kontinu 1-2 kali sehari, terutama pada musim kemarau. Bila tanaman wortel sudah tumbuh besar, maka pengairan dapat dikurangi. Hal penting yang harus di perhatikan adalah agar tanah tidak kekeringan.
Cara pengairan (penyiraman) adalah dengan di-leb atau disiram menggunakan alat bantu gembor (embrat). Waktu penyiraman sebaiknya pada pagi atau sore hari, saat suhu udara dan terik matahari tidak terlalu tinggi.
b.    Penjarangan Tanaman.
Penjarangan tanaman wortel dilakukan pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam. Tujuan penjarangan adalah untuk memperoleh tanaman wirtel cepat tumbuh dan subur, sehingga hasil produksinya dapat tinggi.
c.     Penyiangan
Rumput-rumput liar (gulma) yang tumbuh disekitar kebun merupakan pesaing tanaman wortel dalam kebutuhan air, sinar matahari, unsur hara dan lain – lain, sehingga harus disiangi. Waktu penyiangan biasanya saat tanaman wortel berumur 1 bulan, bersamaan dengan penjarangan tanaman dan pemupukan susulan. Cara menyiangi yang baik adalah membersihkan rumput liar dengan alat bantu kored/cangkul. Rumput liar yang tumbuh dalam parit dibersihkan agar tidak menjadi sarang hama dan penyakit. Tanah di sekitar digemburkan, kemudian ditimbunkan ke bagian pangkal batang wortel agar kelak umbinya tertutup oleh tanah.
b.    Pemupukan susulan
Jenis pupuk yang digunakan untuk pemupukan susulan adalah Urea atau ZA. Dosis pupuk yang dianjurkan adalah Urea 100 kg/hektar atau ZA 200 kg/hektar.
Waktu pemberian pupuk susulan dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan, yakni pada saat tanaman wortel berumur 1 bulan.
Cara pemupukan yang baik adalah degan menyebarkan secara merata dalam alur – alur atau garitan – garitan dangkal atau dimasukkan ke dalam lubang pupuk (tugal) sejauh 5-10 cm dari batang wortel, kemudian segera ditutup dengan tanah dan disiram atau diairi hingga cukup basah.
  1. Pengairan dan Penyiraman.
Pada fase awal pertumbuhannya, tanaman wortel memerlukan air yang memadai, sehingga perlu disiram (diairi) secra kontinue 1-2 kali sehari, terutama pada musim kemarau. Bila tanaman wortel sudah tumbuh besar maka pengairan dapat dikurangi. Hal penting yang harus diperhatikan adalah agar tanah tidak kekeringan.
d.    Waktu Penyemprotan Pestisida
Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunkan inteksida Furadan 3 G atau Indofuran 3G pada saat tanam atau di semprot Hostathion 40 EC dan lain – lain pada konsentrasi yang dianjurkan.
5.  Hama dan Penyakit Tanaman Wortel.
a. Hama
1. Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)
Hama ini sering disebut uler lutung (Jawa) atau hileud taneuh (Sunda) dan “Cutworms” (Inggris). Serangga dewasa berupa kupu – kupu berwarna coklat tua, bagian sayap depannya bergaris – garis dan terdapat titik putih.
Stadium hama yang merugikan tanaman adalah ulat atau larva. Ciri ulat tanah adalah bewarna coklat sampai hitam, panjangnya antara 4-5 cm, dan bersembunyi didalam tanah.
Ulat tanah menyerang bagian pucuk atau titik tumbuh tanaman yang masih muda. Akibat serangan, tanaman layu atau terkulai, terutama pada bagian tanaman yang dirusak hama.
Pengendalian hama secara non kimiawi dapat dilakukan dengan mengumpulkan ulat pada pagi atau siang hari, dari tempat yang dicurigai bekas serangannya untuk segera dibunuh, menjaga kebersihan kebun, dan pergiliran tanaman.
Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektida Furadan 3 G atau Indofuran 3 G pada saat tanam atau di semprot Hostthion 40 EC dan lain – lain pada konsentrasi yang dianjurkan.
2.    Kutu Daun (Aphid, Aphis spp.)
Kutu daun dewasa bewarna hijau sampai hitam, hidup berkelompok di bawah daun atau pada pucuk tanaman. Hama ini menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan selnya, sehingga menyebabkan daun keriting atau abnormal.
Kutu daun bersifat polifag, artinya dapat menyerang berbagai jenis tanaman. Serangan paling berat terjadi pada musim kemarau.
Pengendalian kutu di antara lain dengan mengatur waktu tanam secara serempak dalam satu hamparan lahan untuk memutuskan siklus hidupnya atau disemprotkan dengan inteksida yang mangkus seperti Decis 2,5 EC dan lain – lain yang teteran di labelnya.
3.    Lalat atau magot (Psila rosae)
Stadium hama yang sering merusak tanaman wortel adalah larvanya. Larva masuk ke dalam umbi dengan cara menggerek atau melubanginya.
Pengendalian hama lalat antara lain dengan cara pergiliran tanaman dengan jenis yang tidak sefamili atau disemprot inteksida Decis 2,5 EC dan lain – lain
b.  Penyakit Tanaman Wortel.
1. Bercak daun Cercospora.
Penyebabnya : cendawan (jamur) Cercospors carotae (Pass.) Solheim.
Gejala : pada daun – daun yang sudah tua timbul bercak – bercak berwarna coklat muda atau putih dengan pinggiran bewarna coklat tua sampai hitam.
Pengendalian : untuk mengendalikan penyakit ini dapat dilakukan cara – cara sebagai berikut : Disinfeksi benih dengan larutan fungisida yang mengandung tembaga klorida satu permil selama 5 menit, pegiliran tanaman dengan jenis lain yang ridak sefamili, pembersih sisa- sisa tanaman dari sekitar kebun, penyemprotan fungisida yang mangkus dan sangkil seperti Dithane M-45 0,2%.
2.    Nematoda bintil akar.
Penyebab : penyebabnya adalah mikroorganisme nemtoda Sista (Heterodera carotae).
Gejala serangan : umbi dan akar tanaman wortel menjadi salah bentuk, yakni berbenjol – benjol abnormal.
Pengendalian : pengendalian nematoda antar lain dengan cara pergiliran tanaman dengan jenis lain yang tidak sefamili, pemberaan lahan dan penggunaan nematisida seperti Rugby 10 G atau Rhocap 10 G.
3.    Busuk Alternaria
Penyebab : cendawa Alternaria dauci Kuhn.
Gejala serangan : pada daun terjadi bercak – bercak, bewarna coklat tua sampai hitam yang di kelilingi oleh jaringan berwarna hijau – kuning (klorotik), pada umbi ada gejala bercak-bercak tidak beraturan bentuknya, kemudian membusuk berwarna hitam sampai hitam kelam
Pengendalian : cendawan ini dapat bertahan hidup pada biji dan sisa-sisa tanaman yang sakit, sehingga cara pengendaliannya sama dengan cara yang dilakukan pada Cercospora.

Panen dan Pasca Panen Wortel


1.      Panen wortel
Panen merupakan kegiatan akhir dari budidaya wortel yang sangat dinantikan oleh penanam.
Ciri-ciri tanaman wortel yang sudah saatnya dipanen adalah sebagai berikut :
a.     Tanaman wortel berumur ± 3 bulan sejak sebar benih atau tergantung varietasnya.
b.    Ukuran umbi telah maksimal dan tidak terlalu tua. Panen yang terlalu tua atau terlambat dapat menyebabkan umbi menjadi keras dan berkayu, sehingga kualitasnya rendah atau tidak laku dipasarkan. Demikian pula panen terlalu awal hanya akan menghasilkan umbi berukuran kecil-kecil, sehingga produksinya (rendah).
Cara panen wortel relatif gampang, yaitu dengan mencabut seluruh tanaman bersama umbinya. Tanaman yang baik dan dipelihara secara intensif dapat menghasilkan umbi antara 20-30 ton per hektare.
2.      Panca panen wortel
Sesuai panen umbi wortel petani perlu segera melakukan penanganan pasca panen. Kebiasaan pokok penanganan pasca panen adalah sebagai berikut :
a.     Pengumpulan hasil
Kumpulkan seluruh rumpun (tanaman) wortel yang usai dipanen pada suatu tempat yang strategis, misalnya dipinggir kebun yang teduh, atau digudang penyimpanan hasil
b.    Pembersihan
Bersihkan tiap umbi wortel dari daun, tangkai, akar, maupun tanah yang masih menempel. Tangkai daun disisakan secukupnya.
c.     Pencucian
Cuci umbi wortel pada saluran air yang mengalir, atau dalam bak dengan cara disemprot air.
d.    Penirisan
Tiriskan umbi ditempat yang kering atau rak-rak penirisan.
e.     Seleki dan klasifikasi
Pilih umbi yang baik sambil memisahkan umbi yang rusak, cacat, ataupun busuk secara tesendiri. Klasidikasikan umbi wortel yang baik berdasarkan ukuran dan bentuknya yang seragam.
f.      Penyikatan
Ikat umbi menjadi ikatan-ikatan tertentu. Sehingga praktis dalam pengangkutan dan penyimpanannya. Potong sebagian tangkai daun untuk disisakan sekitar 15-20 cm.
b.    Penyimpanan
Simpan hasil panen wortel dalam wadah atau ruangan yang suhunya dingin dan berventilasi baik.
c.     Pemasaran
Angkut hasil panen wortel ke pasar denan menggunakan alat angkut yang tersedia di daerah setempat. Pasarkan wortel kepada pedagang atau pelaku tata niaga yang memberikan harga paling menguntungkan.


 





Wortel
Gambar 1. Diagram Alur Pasca Panen Wortel