Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Friday, July 4, 2014

PATAH TULANG


Patah tulang merupakan suatu kondisi di mana tulang mengalami keretakan. Umumnya disertai dengan cedera pada jaringan di sekitarnya. Patah tulang disebut juga fraktur, yang biasanya terjadi akibat terjadinya cedera, seperti kecelakaan, jatuh, atau cedera olah raga.
Patah tulang akan terjadi jika terdapat tenaga yang melawan tulang lebih besar daripada kekuatan yang dimiliki tulang itu sendiri. Patah tulang dipengaruhi oleh :
  • Jenis tulang
  • Usia seseorang
  • Kelenturan yang dimiliki oleh tulang
  • Tulang mengalami osteoporosis, sehingga tulang menjadi rapuh, dan tidak kuat menahan tenaga yang melawannya.
  • Kecepatan serta kekuatan yang melawan tulang tersebut
Patah tulang memiliki gejala nyeri pada tulang. Rasa nyeri yang diderita dapat terjadi dengan amat sangat, dan semakin lama semakin memburuk, terlebih lagi jika tulang yang patah, digerakkan atau tersentuh. Jika mengalami patah tulang, seseorang tidak dapat menggerakkan bagian tubuh yang patah. Hal tersebut terjadi karena tubuh yang patah tidak dapat berfungsi seperti biasanya. Patah tulang dapat diketahui dari hasil rontgen, dan dengan rontgen juga seseorang dapat memantau perkembangan dalam proses penyembuhan. CT scan atau MRI terkadang diperlukan untuk dapat melihat daerah yang mengalami patah secara lebih detail.
Beberapa jenis patah tulang :
·         Patah tulang simpleks
Patah tulang simplek disebut juga patah tulang tertutup. Dikatakan demikian karena tidak dapat terlihat dari luar.
·         Patah tulang majemuk
Patah tulang majemuk disebut juga sebagai patah tulang terbuka. Dikatakan demikian karena tulang yang patah tampak dari luar karena tulang menembus kulit, sehingga kulit mengalami luka robek. Sehingga rentan sekali terkena infeksi.
·         Patah tulang kompresi
Patah tulang kompresi terjadi sebagai akibat dari penekanan. Patah tulang kompresi sering terjadi pada orang yang berusia lanjut (yang mengalami osteoporosis pada tulang belakangnya).
·         Patah tulang yang terjadi akibat tergilas
Sesuai dengan namanya, patah tulang jenis ini terjadi akibat tenaga yang sangat kuat, sehingga menyebabkan tulang menjadi retak dan pecah menjadi beberapa bagian.
·         Patah tulang avulsi
Patah tulang avulsi disebabkan karena adanya kontraksi otot yang sangat kuat, sehingga menarik bagian tulang tempat tendon otot melekat. Patah tulang jenis ini biasanya terjadi pada bahu, lutut, tumit, dan tungkai.
·         Patah tulang patogis
Patah tulang patogis ini terjadi jika kanker tumbuh di dalam tulang, dan menyebabkan tulang menjadi rapuh.
Saat patah tulang, darah dapat merembes dari tulang yang patah, dan masuk ke dalam jaringan yang berada di sekitarnya. Darah juga bisa keluar cukup banyak dari luka. Untuk penyembuhan, ujung-ujung dari tulang yang patah akan ditempatkan secara berdekatan, dan dijaga bagaimana caranya agar tulang-tulang tersebut tetap menempel satu sama lain. Untuk menyembuhkan patah tulang, diperlukan waktu minimal empat minggu. Patah tulang yang terjadi pada anak-anak akan cepat sembuh. Sedangkan jika terjadi pada orang yang berusia lanjut, umumnya memerlukan waktu yang lebih lama. Upaya penyembuhan dapat dilakukan dengan beberapa cara :
  • Membatasi pergerakan
Dilakukan dengan cara menempatkan benda keras di sekitar tulang yang patah. Umumnya dilakukan jika terjadi patah tulang selangka, patah tulang bahu, patah tulang iga, patah tulang jari kaki atau tangan.
  • Bagian yang patah tidak boleh digerakan sama sekali. Biasanya disebut dengan imobilisasi. Karena tidak boleh digerakkan sama sekali, otot bagian yang patah menjadi lemah. Oleh karena itu, penderita harus menjalani terapi fisik, yang dilakukan dari awal imobilisasi dilakukan sampai gips atau beban dilepaskan. Contohnya saja :
  • Memasang gips (bahan kuat) yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah. Tindakan menggunakan gips dilakukan agar penderita tidak dapat menggerakan bagian yang patah sama sekali.
  • Menggunakan beban untuk menahan suatu anggota gerak pada tempatnya. Upaya penyembuhan jenis ini sudah jarang dilakukan sekarang. Dulu banyak digunakan sebagai pengobatan utama jika seseorang terkena patah tulang di bagian pinggulnya.
  • Melakukan pembedahan agar dapat memasukkan piringan atau batangan logam pada pecahan tulang. Biasanya upaya pengobatan ini disertai dengan komplikasi.
 Sumber : www.info-sehat.com

Berapa jangka waktu penyembuhan bila patah tulang ?

FAKTOR PENYEMBUHAN FRAKTUR (PATAH TULANG)

1 Usia penderita. Waktu penyembuhan tulang anak-anak jauh lebih cepat daripada orang dewasa. Hal ini terutama disebabkan aktivitas proses osteogenesis pada periosteum dan endosteum serta proses pembentukan tulang pada bayi sangat aktif. Apabila usia bertambah, proses tersebut semakin berkurang.
2 Lokasi dan konfigurasi fraktur. Lokalisasi fraktur memegang peranan penting. Penyembuhan fraktur metafisis lebih cepat daripada fraktur diafisis. Disamping itu, konfigurasi fraktur seperti fraktur transversal lebih lambat penyembuhannya dibandingkan dengan fraktur oblik karena kontak yang lebih banyak.
3 Pergeseran awal fraktur. Pada fraktur yang periosteumnya tidak bergeser, penyembuhannya dua kali lebih cepat dibandingkan dengan fraktur yang bergeser.
4 Vaskularisasi pada kedua fragmen. Apabila kedua fragmen mempunyai vaskularisasi yang baik, penyembuhannya tanpa komplikasi. Bila salah satu sisi fraktur memiliki vaskularisasi yang jelek sehingga mengalami kematian, pembentukan union akan terhambat atau mungkin terjadi non-union.
5 Reduksi serta imobilisasi. Reposisi fraktur akan memberikan kemungkinan untuk vaskularisasi yang lebih baik dalam bentuk asalnya. Imobilisasi yang sempurna akan mencegah pergerakan dan kerusakan pembuluh darah yang mengganggu penyembuhan fraktur.
6 Waktu imobilisasi. Bila imobilisasi tidak dilakukan sesuai waktu penyembuhan sebelum terjadi union, kemungkinan terjadinya non-union sangat besar.
7 Ruangan diantara kedua fragmen serta interposisi oleh jaringan lunak. Adanya interposisi jaringan, baik berupa periosteum maupun otot atau jaringan fibrosa lainnya akan menghambat vaskularisasi kedua ujung fraktur.
8 Faktor adanya infeksi dan keganasan local.
9 Cairan synovial. Cairan synovial yang terdapat pada persendian merupakan hambatan dalam penyembuhan fraktur.
10 Gerakan aktif dan pasif pada anggota gerak. Gerakan aktif dan pasif pada anggota gerak akan meningkatkan vaskularisasi daerah fraktur. Akan tetapi, gerakan yang dilakukan pada daerah fraktur tanpa imobilisasi yang baik juga akan mengganggu vaskularisasi.

Penyembuhan fraktur berkisar antara 3 minggu sampai 4 bulan. Secara kasar, waktu penyembuhan pada anak ½ waktu penyembuhan orang dewasa. Faktor lain yang mempercepat penyembuhan fraktur adalah nutrisi yang baik, hormone-hormon pertumbuhan, tiroid, kalsitonin, vitamin D, dan steroid anabolic, seperti kortikosteroid (menghambat kecepatan perbaikan).

Hebatnya Patah Tulang Anak-Anak


foto sebelum pasang gips
Awal Patah
Patah tulang bisa mengenai semua umur, juga pada anak2. Apalagi saat ini animo masyarakat untk menjaga kesehatan cukup tinggi, sehingga  anak2pun ikut tertarik untuk melakukan aktifitas olah raga. tapi sayang animo yang besar tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup bagaimana melakukan olah raga yang benar, sehingga menyebabkan sering terjadi cedera, salah satunya yang paling sering adalah patah tulang.

Awal pasang gips
Tulang pada anak2 berbeda dengan tulang pada orang dewasa, perbedaannya ialah adanya LEMPENG PERTUMBUHAN  pada masing2 jenis tulang, penutupan lempeng pertumbuhan masing2 tulang berbeda-beda. Fungsi dari lempeng pertumbuhan adalah membuat tulang menjadi lebih besar dan lebih panjang seiring dengan kepadatan tulang yang juga meningkat, oleh

Pasang gips setelah 1 bulan
sebab itu pada anak2 dibutuhkan asupan Kalsiun dan Vitamin yang cukup serta hormon pertumbuhan yang memadai, selain itu juga harus dirangsang dengan excercise, salah satu caranya dengan berolah raga.Selain itu tulang pada anak lapisan pembungkus tulang lebih tebal dan lebih kuat , hal ini
bahwa : tulang yang patah harus tidak ada rotasi pada daerah yg patah, angulasi diperbolehkan tidak lebih dari 10-15  menyebabkan jarang terjadi kasus lepas sendi, dan bila terjadi patah tulang, patahan tulangnya masih dalam pembungkus tulangnya sehingga penyambungannya akan kembali ke bentuk semula, walaupun bentuk patahannya tumpang tindih iatau side by side, sepanjang memenuhi syarat acceptabilitas derajat.
Pasang gips setelah 2 bulan
Konsekuensinya adalah bila terjadi patah yang tdk mengenai lempeng pertumbuhan relatif aman sepanjang memenuhi kriteria acceptabilitas, akan menyambung dengan baik dan benar walaupun tidak di operasi, sebaliknya bila patahannya
mengenai lempeng pertumbuhan penanganannya harus hati2, dan kadang harus di operasi yang bertujuan agar kemudian hari tulang menyambung dengan benar tidak ada gangguan pertumbuhan. Apalagi bila patahnya pada lempeng pertumbuhan sebaiknya berobat ke dokter, jgn dibawa ke tempat lain, krn dipastikan kalau menyambung tulangnya dengan gangguan pertumbuhan kemudian hari, spt siku jd bengkok, tak bisa ditekuk, dll.
Pada kasus patah tulang anak2 kita lakukan pemeriksaan foto rontgen sedikit berbeda dengan orang dewasa , pada anak hrs dilakukan pengambilan foto pada dua sisi, baik sisi yg patah maupun sisi yg normal, krn apa ???, pada ank ada lempeng petumbuhan , yang pada foto rontgen tampak seperti garis patah.Umumnya patah tulang pada anak2 bisa dilakukan tanpa operasi, asal syarat acceptabilitas terpenuhi, jika tidak sebaiknya operasi yg bertujuan agar arah pertumbuhan tulang kembali seperti semula.
Lepas gips 3 bulan
Proses penyambungan patah tulang pada anak2 lebih baik dari orang dewasa karena lapisan pembungkus tulang masih tebal, perdarahan lbh baik,daya remodelling baik( yang tdk dimiliki pada proses penyambungan tulang pada orang dewasa), hal inilah yang membuat anak2 lbh mudah menyambung dan hasilnya baik siapapun yang menanganinya.Pada
tulisan ini kami tampilkan foto seorang anak yang mengalami ptah tulang lengan bawah yg kebetulan tdk mau operasi, dan kebetulan posisinya baik, jadi kami lakukan tindakan pemasangan gips , dari gambaran foto terlihat perjalanan proses penyambungan tulangnya dari saat kondisi patah awal.
Kondisi terakhir
Setelah pasang gips,  foto kontrol  1 bulan, 2 bulan 3 bulan, tampak terlihat proes penyambungan tulang yg baik, pada gambar ini ditampilkan fase remodelling yg baik, dimana tulang yg patah posisinya kembali lurus, walaupun pada kondisi awal terjadi overlap posisi, tapi pada foto terakhir terlihat tulang sdh lurus kembali.Jadi siapa yang HEBAT bikin nyambung tulang anak2 jd baik lg , DOKTER KAH ? atau  DUKUN PATAH KAH ?? yang pasti   SANG PENCIPTA yang menciptakan semua proses ini.

Tuesday, May 27, 2014

ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN JAMINAN KESEHATAN ACEH DENGAN MODEL GEORGE C. EDWARDS

ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN JAMINAN KESEHATAN ACEH
(MODEL GEORGE C. EDWARDS)
BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Dengan terbentuknya kebijakan tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) pada 2010 bagi seluruh masyarakat di provinsi itu baik kaya maupun miskin dengan sistem asuransi, diharapkan kualitas kesehatan warga setempat menjadi lebih meningkat. Pemerintah Aceh melalui APBA 2010, mengalokasikan dana sekitar Rp. 425 miliar untuk program JKA. Program JKA mencakup 3,8 juta penduduk dari 4,3 juta warga Aceh. Dari target ini diprioritaskan pada 1,2 juta warga yang sampai kini belum mendapat jaminan kesehatan dari Askes, Jamkesmas dan asuransi kesehatan lainnya. Misi dan tujuan JKA bukan mengejar jumlah untuk dilayani tapi kualitasnya. Karenanya, pelayanan rumah sakit (RS) maupun Puskesmas kepada masyarakat diharapkan lebih optimal dan lebih baik ke depan dengan adanya bantuan pemerintah melalui program pembangunan Aceh Sehat 2010.
Terlepas dari dinamika positif dan negatifnya program JKA, fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat memang membutuhkan pelayanan kesehatan gratis untuk saat ini. Yang menjadi persoalan kemudian adalah saat ini program JKA tidak diiringi dengan peraturan dan regulasi yang memadai untuk menjamin keberlangsungan program ini kedapan. Sampai dengan detik ini, belum ada suatu aturan dalam bentuk qanun atau peraturan daerah yang akan menjamin kelangsungan program ini di Aceh, hal ini sangat penting untuk memastikan agar program JKA memiliki kekuatan hukum yang memadai dalam implementasinya.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka permasalahan yang menjadi perhatian penulis dalam penelitian ini adalah:
1.          Apakah yang dimaksud dengan program JKA?
2.          Bagaimana Model Kebijakan Jaminan Kesehatan Aceh di terapkan?
3.          Bagaimana implementasi program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA)?
C.        Tujuan Masalah
Adapun tujuan penelitian yang dilakukan adalah:
1.          Untuk mengetahui tentang program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA).
2.          Memberi pemahaman tentang proses atau model implementasi kebijakan yang dipakai
3.          Untuk mengetahui dan mendeskripsikan proses implementasi program Jaminan  Kesehatan Aceh (JKA) .
BAB II
PEMBAHASAN
A.       Penyaluran Pogram Jaminan Kesehatan Aceh
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H dan Undang-Undang Nomor 23/1992 tentang Kesehatan, menetapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Karena itu setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya, dan negara bertanggung jawab mengatur agar terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu.
Derajat kesehatan masyarakat miskin berdasarkan indikator Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI). Derajat kesehatan masyarakat miskin yang masih rendah tersebut diakibatkan karena sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Kesulitan akses pelayanan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tidak adanya kemampuan secara ekonomi dikarenakan biaya kesehatan memang mahal. (www.depkes.go.id/jamkesmas.pdf)
Untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, sejak tahun 2008 pemerintah telah mengupayakan untuk mengatasi kendala masyarakat miskin dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan melalui pelaksanaan kebijakan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Kebijakan Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam membuat kebijakan untuk pembiayaan gratis terhadap rakyat miskin melalui program Jamkesmas adalah kebijakan yang patut didukung.
Namun yang sangat disayangkan, ternyata di lapangan terdapat adanya kasus salah sasaran. Ada keluarga yang rumahnya berlantai keramik, punya listrik, telepon, dan sepeda motor yang menerima program Jamkesmas. Sedangkan keluarga yang lebih miskin justru tidak menerima. Fakta lapangan tentang ketidakmerataan pembagian dan banyaknya salah sasaran tetap saja didalih oleh pemerintah sebagai hal yang wajar dan dianggap sangat manusiawi. (www.kompasonline.com)
Fakta tentang masih banyaknya masyarakat Aceh yang tidak terserap dan terdata untuk merasakan program Jamkesmas tersebut juga terdapat di Pelosok-pelosok Aceh. Saat ini masih ada puluhan ribu rakyat miskin di luar kuota Jamkesmas yang belum mendapatkan kepastian jaminan kesehatan. Maka untuk menanggulanginya, berdasarkan Qanun Aceh No 8 Tahun 2008 tentang Pelayanan Publik pemerintah daerah Aceh mengeluarkan program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang dapat memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin seluruh Aceh yang tidak mendapatkan program Jamkesmas.
JKA sebagai program yang memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin diterapkan di seluruh puskesmas yang ada di Aceh serta beberapa rumah sakit milik pemerintah. Dan harapan yang ada pada program ini semoga masyarakat Aceh yang sebelumnya tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan pada akhirnya mendapatkan pelayanan kesehatan sama seperti masyarakat yang lain.
Peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Aceh tidak hanya cukup dengan jaminan kesehatan gratis yang bersifat menyembuhkan atau mengobati masyarakat yang sakit. Tetapi juga harus meliputi aspek-aspek yang mampu mencegah masyarakat terjangkit penyakit. Pendekatan dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat yang bersifat mengobati (kuratif) hanya solusi jangka pendek yang tidak akan menyelesaikan masalah dalam jangka panjang. Untuk jangka panjang Pemerintah Aceh perlu mengupayakan  peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penyediaan bahan pokok yang murah sehingga meningkatkan gizi masyarakat, yang pada akhirnya akan membuat masyarakat lebih sehat dan kebal terhadap penyakit.
Selain itu juga perlu diciptakan infrastruktur yang ramah lingkungan. Tersedianya sistem sanitasi yang baik dan drainase yang memadai akan membuat lingkungan menjadi lebih sehat sehingga masyarakat pun menjadi terjaga kesehatannya.
Untuk itu perlu dilakukan alokasi dana yang cukup juga dalam APBA untuk sektor-sektor penyediaan infrastruktur di bidang kesehatan dan upaya untuk terus meningkatkan kesejahteraan (daya beli) masyarakat. Sehingga semakin sedikit masyarakat yang sakit, busung lapar atau cebol. Bila ini dapat berjalan maka semakin lama akan semakin sedikit dana yang dibutuhkan untuk membiayai jaminan kesehatan gratis seperti Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) karena masyarakat dengan sendirinya telah terkondisikan untuk sehat.
Disisi lain yang sangat kelihatan signifikan bahwa pogram JKA maih ada kelemahan adalah terlihat dalam kondisi masyarakat Aceh di Malang bahwa ketersediaannya Jaminan Kesehatan tersebut sama sekali tidak berfungsi apa-apa terhadap kondisi masayarakat Aceh yang ada di malang, khususnya bagi mahasiswa, JKA hnya berfungsi ketika berobat dirumahsakit-sumahsati di Aceh saja, disinilah perlu ada perhatian khusus dalam penerapan kebijakan pemerintah, agar akses public seperti kesehatan tidak terhambat.

B.       Kebutuhan Kebijakan Dalam Jaminan Kesehatan Aceh
Kebutuhan jaminan kesehatan dan makan merupakan yang paling utama di antara yang lain. Dalam hal ini seseorang sangat membutuhkan makan, pakaian, papan, dan bebas dari rasa sakit. Teori Maslow mengasumsikan bahwa orang berusaha memenuhi kebutuhan yang lebih pokok (fisiologis) sebelum mengarahkan perilaku memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. (Gibson, 1997:97)
Sebenarnya tidak bisa dipungkiri, pada awalnya mayoritas dari aktivitas kehidupan manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan fisik ini. Ketika aktivitas pemenuhan kebutuhan fisik ini sudah mulai menurun maka naiklah kebutuhan lain seperti mencari keamanan.
Begitu pula yang terjadi dengan masyarakat kita terutama masyarakat Aceh, ketika kebutuhan akan sandang, pangan dan papan telah terpenuhi tentunya mereka memerlukan tubuh yang sehat untuk terus memenuhi tiga kebutuhan utama tersebut. Terlebih lagi kesehatan bagi masyarakat menjadi sebuah kebutuhan yang mendasar karena menyangkut kualitas hidup masyarakat di masa yang akan datang. Artinya kualitas hidup masyarakat di masa yang akan datang salah satunya dipengaruhi oleh faktor kesehatan di masa kini. Karena itu masyarakat akan semakin menuntut tersedianya pelayanan kesehatan yang lebih baik.
Namun kesehatan malah menjadi sesuatu yang mahal yang hanya dapat dinikmati oleh sebagian besar masyarakat saja. Biaya perawatan kesehatan seperti biaya rumah sakit dan obat tidak dapat terjangkau oleh sebagian besar masyarakat kita yang golongan ekonominya masih rendah. Banyak warga masyarakat miskin yang tidak menyadari bahwa pelayanan kesehatan dasar merupakan hak dasar yang seyogyanya disediakan oleh negara. Berkaitan dengan hal ini, negara sebagai instrumen publik memiliki kewenangan dan kewajiban untuk memenuhi hak-hak dasar tersebut. Negara berwenang memformulasikan anggaran bagi publik melalui program pemerintah maupun swasta.
Dengan demikian, atas dasar untuk memenuhi kebutuhan fisiologis masyarakat Aceh akan kebutuhan bebas dari rasa sakit maka dibuatlah satu kebijakan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satunya dengan program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA).
Derajat kesehatan masyarakat miskin yang rendah tersebut disebabkan sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Banyaknya masyarakat miskin yang tidak bisa berobat ke puskesmas ataupun rumah sakit disebabkan karena keterbatasan biaya dan hal inilah yang telah mendorong pemerintah untuk memprioritaskan kebutuhan masyarakat miskin terhadap kesehatan.
Program JKA bertujuan memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Aceh terutama yang tidak mendapatkan program Jamkesmas. Pada program ini pemerintah Aceh memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat Aceh yang belum mendapatkan program kesehatan apapun. Dimulai dari berobat ke puskesmas hingga berobat gratis ke rumah sakit apabila penyakit yang diderita tergolong penyakit parah dan tidak dapat ditanggulangi oleh puskesmas
hukhk

C.        Analisis Kebijakan Jaminan Kesehatan Aceh Dalam Modelnya George C. Edwards
Kebijakan Jaminan Kesehatan Aceh salah satu bagian yang terpenting untuk menciptakan masyarakat Aceh yang terlepas dari belenggunya ketidakberdayaan, dimana akses kesehatan yang sangat sulit terkadang membuat masayarakat rela dalam kesakitan, kesehatan telah menjadikan masalah tersendiri dalam masayarakat yang telah lama berusaha untuk dihilangkan.
Menurut E. Anderson dalam Islamy (2001:17): “A purposive course of action followed by an actor or set of actors in deadling with a problem or a matter of concern”(serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seseorang pelaku atau kelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah tertentu).
Berdasarkan pandangan diatas tentu kebijakan public perlu diadakan serangkaian-serangkaian proses yang nantinya dapat terlaksananya kebijakan jaminan kesehatan marupakan E.S. Quade (1984:310) bahwa dalam proses implementasi kebijakan akan terjadi interaksi dan reaksi dari organisasi palaksana, kelompok, sasaran dan faktor-faktor lingkungan yang mengarah pada konflik, sehingga membutuhkan suatu transaksi sebagai umpan balik yang digunakan oleh pengambil keputusan dalam rangka merumuskan suatu kebijakan yang telah ditetapkan, dalam hal ini kebijakan JKA yang telah di implementasikan kedapa masyarakat umum.
Menurut Ketua IPPMA Aceh Malang Chalil Al-Wazir menganggap kebijakan JKA merupakan “Kebijakan yang terwujud dari implementasi kebijakan publik di Aceh yang telah melibatkan berbagai macam potensi-potensi dengan model-model tertertu, tentu kebijkan ini bagian dari kebijakan yang telah teproses dengan matang dan tepat untuk diterapkan didaerah yang masih membutuhkan pelayanan kesehatan yang lebih efektif”
Implementasi kebijakan JKA ini telah termproses lebih dinamis yang melibatkan masyarakat dan para ahli dalam bidangnya secara terus menerus usaha-usaha untuk mencari apa yang akan dan dapat dilakukan. Dengan demikian implementasi JKA dapat mengatur kegiatan-kegiatan yang mengarah pada penempatan suatu program ke dalam tujuan kebijakan yang diinginkan oleh masayarakat Aceh itu sendiri dengan model kebijakan tersendiri.
Disisi lain Ketua Keluarga Tanah Rencong Malang Husni Ali menganggap bahwa “Implementasi kebijakan JKA telah melalui model-model yang sudah jelas terhadap bentuk sasaran yang ingin dicapai dan ouput dari kebijakan JKA tersebut juga sangat rill yaitu peningkatan kualitas kesehatan masayarakat khususnya masayarakat Aceh”
Adapun model-model implemnetasi kebijakan yang George C. Edwards III (1980:148) cetuskan Pertama,Bureaucraitic structure (struktur birokrasi); Kedua, Resouces (sumber daya); Ketiga, Disposisition (sikap pelaksana) dan; Keempat, Communication (komunikasi).
1. Strutur Birokrasi
Dalam proses mewujudkan JKA yang lebih efektif tentu membutuhkan Struktur organisasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan Jaminan Kesehatan Aceh. Salah satu dari aspek struktur yang penting dari setiap organisasi adalah adanya prosedur operasi yang standar (standard operating procedures atau SOP)
2. Sumberdaya
Walaupun isi kebijakan JKA ini sudah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apa bila implementator kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan tidak mupuni, implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumber daya tersebut dapat berwujud sumberdaya manusia, yakni implementator, dan sumberdaya financial, sehingga akan terjadi ketidak sesuaian dengan hasil yang akan dicapai.
3. Sikap Pelaksana
Sikap ini adalah watak dan karakteristik yang dimiliki oleh implementator, seperti komitmen, kejujuran, sifat demokratis. Apa bila implementator memiliki disposisi yang baik, maka dia akan dapat menjalankan kebijakan JKA dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan JKA.
Ketika implementator memiliki sikap dan perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses implementasi kebijakan JKA tersebut juga menjadi tidak efektif. Jadi dalam hal ini antara antara implementor kebijakan dengan pembuat kebijakan harus singkrong dalam membuat mauapun menjalankan.
4. Komunikasi
Dalam mengimplementasikan kebijakan mensyaratkan agar implementator mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran (target group) sehingga akan mengurangi distorsi implementasi. Apa bila tujuan dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran, maka kemungkinan akan terjadi resistensi dari kelompok sasaran.



BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpulan
Kebijakan JKA merupakan sebuah kebijakan yang terproses dari model kebijakan George C. Edwards III (1980:148) cetuskan Pertama, Bureaucraitic structure (struktur birokrasi); Kedua, Resouces (sumber daya); Ketiga,Disposisition (sikap pelaksana) dan; Keempat, Communication (komunikasi).
Kebijakan ini juga terbentuk dari sikap pemerintah yang semakin terbuka terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat dan masyarakat telah terakat dengan konsep top donw button up, sehingga peran masyarakat pemerintah dalam mengelola kesehatan dapat terjamin dengan baik.
B.       Kritik dan Saran
Kritik dan saran penulis hanay menyampaikan bahwa tidak ada kebijakan yang dapat dilakukan tampa ada sebuah acuan yang riil, dan model kebijakannya  Edwar merupakan salah satu referensi yang bisa dipakai untuk merujut sebuah kebijakan yang tepat, harapan tulisan ini dapat menjadi pemahaman baru tentang konsep JKA Provinsi Aceh.
 DAFTAR PUSTAKA
1.          Islamy,M. Irfan, 2001, Prinsip-prinsip Kebijakan Negara, Bumi Aksara, Jakarta.
2.          Samodra Wibawa, 1994, Evaluasi Kebijakan Publik, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
3.          Subarsono, AG, 2005, Analisis Kebijakan Publik, Konsep, Teori dan Aplikasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
4.          Wahab, Sholichin, Abdul, 2001, Analisis Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan Negara, Bumi aksara, Jakarta.
5.          Internet: Di Akses 08/10/2011, file:///E:/My%20Document/Data%20Sementara/Kebijakan%20Publik/preview.html
7.          Internet: Di Akses 08/10/2011, http://triandyn.wordpress.com/2010/02/15/jaminan-kesehatan-aceh/
8.          Internet: Di Akses 08/10/2011, http://harian-aceh.com/2011/10/18/mengkritisi-jaminan-kesehatan-aceh

 by: Afrizal Woyla Saputra Zaini
source: http://afrizalwszaini.wordpress.com/2012/01/13/analisis-implementasi-kebijakan-jaminan-kesehatan-aceh-dengan-model-george-c-edwards/

Pemberdayaan Masyarakat

A. DEFINISI PEMBERDAYAAN
Sekilas, makna pemberdayaan memiliki makna luas dari beberapa sudut pandang. Agar dapat memahami secara mendalam tentang pengertian pemberdayaan maka perlu mengkaji beberapa pendapat para ilmuwan yang memiliki komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat. 
Robinson (1994) menjelaskan bahwa pemberdayaan adalah suatu proses pribadi dan sosial; suatu pembebasan kemampuan pribadi, kompetensi, kreatifitas dan kebebasan bertindak. Sedangkan Ife (1995) mengemukakan bahwa pemberdayaan mengacu pada kata “empowerment,” yang berarti memberi daya, memberi ”power” (kuasa), kekuatan, kepada pihak yang kurang berdaya. 
Payne (1997) menjelaskan bahwa pemberdayaan pada hakekatnya bertujuan untuk membantu klien mendapatkan daya, kekuatan dan kemampuan untuk mengambil keputusan dan tindakan yang akan dilakukan dan berhubungan dengan diri klien tersebut, termasuk mengurangi kendala pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Orang-orang yang telah mencapai tujuan kolektif diberdayakan melalui kemandiriannya, bahkan merupakan “keharusan” untuk lebih diberdayakan melalui usaha mereka sendiri dan akumulasi pengetahuan, ketrampilan serta sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan tanpa tergantung pada pertolongan dari hubungan eksternal. 
Empowerment atau pemberdayaan secara singkat dapat diartikan sebagai upaya untuk memberikan kesempatan dan kemampuan kepada kelompok masyarakat untuk berpartisipasi, bernegoisasi, mempengaruhi, dan mengendalikan kelembagaan masyarakat secara bertanggung jawab demi perbaikan kehidupannya. Pemberdayaan juga diartikan sebagai upaya untuk memberikan daya (empowerment) atau kekuatan (strength) kepada masyarakat.

B. TUJUAN PEMBERDAYAAN
Sulistiyani (2004) menjelaskan bahwa tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan masyarakat adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan, memutuskan sertamelakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki.

C. ASPEK PEMBERDAYAAN
Ditinjau dari lingkup dan objek pemberdayaan mencakup beberapa aspek, yaitu:

  1. ​Peningkatan kepemilikan aset (Sumber daya fisik dan finansial) serta kemampuan secara individual maupun kelom​pok untuk memanfaatkan aset tersebut demi perbaikan kehidupan mereka.
  2. Hubungan antar individu dan kelompok, kaitannya dengan pemilikan aset dan kemampuan memanfaatkannya.
  3. Pemberdayaan dan reformasi kelembagaan.
  4. Pengembangan jejaring dan kemitraan-kerja, baik di tingkat lokal, regional maupun global.

D. PROSES PEMBERDAYAAN
Pranarka & Vidhyandika (1996) menjelaskan bahwa ”proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan. Pertama, proses pemberdayaan yang mene-kankan pada proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuatan, kekuasaan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu lebih berdaya.
Kecenderungan pertama tersebut dapat disebut sebagai kecenderungan primer dari makna pemberdayaan. Sedangkan kecenderungan kedua atau kecenderungansekunder menekankan pada proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apayang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog”.
Sumardjo (1999) menyebutkan ciri-ciri warga masyarakat berdaya yaitu:

  1. Mampu memahami diri dan potensinya,mampu merencanakan (mengantisipasi kondisi perubahan ke depan)
  2. Mampu mengarahkan dirinya sendiri
  3. Memiliki kekuatan untuk berunding
  4. Memiliki bargaining power yang memadai dalam melakukan kerjasama yang saling menguntungkan, dan 
  5. Bertanggungjawab atas tindakannya.

Proses pemberdayaan masyarakat adat, akan menyisakan berbagai tantangan yang multidimensional. Peran kebijakan pemerintah tentulah diperlukan untuk mempercepat komunitas ini lebih mandiri dan siap menyongsong perubahan sosial yang semakin memperkuat modal sosial.
Slamet (2003) menjelaskan lebih rinci bahwa yang dimaksud denganmasyarakat berdaya adalah masyarakat yang tahu, mengerti, faham termotivasi,berkesempatan, memanfaatkan peluang, berenergi, mampu bekerjasama, tahu berbagai alternative, mampu mengambil keputusan, berani mengambil resiko, mampu mencari dan menangkap informasi dan mampu bertindak sesuai dengansituasi. Proses pemberdayaan yang melahirkan masyarakat yang memiliki sifat seperti yang diharapkan harus dilakukan secara berkesinambungan dengan mengoptimalkan partisipasi masyarakat secara bertanggungjawab.

E. UNSUR-UNSUR PEMBERDAYAAN
Upaya pemberdayaan masyarakat perlu memperhatikan empat unsur pokok, yaitu:

  1. Aksesbilitas informasi, Kemampuan akses yang diterima oleh masyarakat.
  2. Partisipasi atau keterlibatan, Menyangkut siapa yang dilibatkan dan bagaimana mereka terlibat dalam keseluruhan Proses pembangunan.
  3. Akuntabilitas, Pertanggungjawaban publik atas segala kegiatan yang dilakukan dengan mengatasnamakan rakyat.
  4. Kapasitas organisasi local, Kemampuan berkerja sama, mengorganisir warga masyarakat, serta memobilisasi sumber daya untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi.

F. METODE PEMBERDAYAAN
Kegiatan pemberdayaan masyarakat merupakan kesatuan proses yang berkelanjutan melalui kegiatan “kaji tindak yang partisipatif” atau dikenal sebagai Participatory Action Research/ PAR.Pengertian PAR bukanlah sebuah ‘proyek’ yang melibatkan partisipasi masyarakat, melainkan lebih bernuansa filosofis untuk memberikan kesempatan dan kepercayaan terhadap kemampuan dan kemauan masyarakat untuk melaksanakan pembangunan di wilayahnya sendiri dan bagi kepentingan peningkatan masyarakatnya sendiri sesuai dengan kebutuhan potensi yang mereka miliki sendiri, melalui kegiatan aksi dan refleksi yang berkelanjutan.
Di dalam pelaksanaanya, PAR dilaksanakan sebagai berikut;

  1. Kegiatan pengumpulan data dasar, dilaksanakan dengan menggabungkan teknik penilaian desa secara cepat (Rapid Rural Appraisal/ RRA) yang dilakukan oleh orang luar dan survai mandiri yang dilakukan sendiri oleh masyarakat melalui Community Self Survei/ CSS.
  2. Kegiatan perencanaan kegiatan yang dilakukan melalui kegiatan penilaian partisipatif atauParticipatory Rural Appraisal/ PRA.
  3. Kegiatan aksi merupakan ‘proses belajar’ yang terus menerus dan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan (in door dan out door) yang kait mengait secara berkelanjutan, dengan menggunakan metode pendidikan orang dewasa yang partisipatif (Participatory Training Method).
  4. Refleksi dilakukan juga oleh masyarakat dalam bentuk pemantauan dan evaluasi kegiatan melalui Participatory Assesment for Monitoring and Evaluation.

G. CONTOH PEMBERDAYAAN
Nurhidayati, Pejuang Lingkungan dari Kediri

Berbuat tanpa mengharap imbalan. Begitulah prinsip Nurhayati (28), aktivis lingkungan asal Kediri, Jawa Timur. Sebuah prinsip hidup yang cukup berlawanan dalam arus globalisasi ini. Kebanyakan orang justru sebaliknya. Karena sudah berbuat, maka meski ada imbalannya. Jika tanpa imbalan, maka no action.
“Saya hanya ingin memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada masyarakat,” kata wanita dari Desa Gempolan, Kecamatan Gurah, Kediri ini. Tentu saja semua itu atas dasar mengharap ridho Alloh SWT.
Wanita mungil berjilbab yang biasa dipanggil Nur ini seakan tak pernah lelah bergerak. Bersama masyarakat, ia berkerja keras menjaga kelestarian sumber air. Terbukti kemudian, tetes keringatnya telah mengalir tujuh sumber mata air di desa Kediri.
Sebagai anak desa yang hidup dari hasil pertanian, Nur tahu betul kesulitan petani. Iorigasi teknis baru menjangkau sebagian kecil wilayah. Selebihnya masih mengandalkan pasokan dari ebebrapa mata air. Biasanya mata air itu sebidang tanah. Lahan di sekitar mata air itu ditumbuhi beberapa jenis tanaman dan pepohonan. ‘Mata air itu dilindungi masyarakat sekitar. Namun seiring memudarnya gotong royong, mata air ikut punah pula. Apalagi hal tersebut diperparah dengan banyaknya pohon yang roboh karena lapuk, bahkan habis ditebang. Jadinya, kalau musim kemarau susah,” ungkap Sarjana Pertanian dari Universitas Islam Kediri ini.
Nur terpanggil. Pecinta alam yang tergabung dalam Elang Jawa ini berkerja keras meyakinkan kepala dusun dan masyarakat agar mau bersama-sama memelihara mata air. Argumentasinya rupanya cukup meyakinkan aparat dan tokoh masyarakat. Buktinya, tak lama setelah itu segera terbentuk enam kelompok petani di enam desa yang berbeda. Desa yang terjauh di lereng gunung Wilis, sekitar 30 km dari tempat tinggalnya, tepatnya di dusun Bulakduwung, Desa Parang, Kecamatan Banyakan.
Nur tak pernah alpa membina kelompok-kelompok petani itu. Dengan bersepeda motor, ia sering naik turun gunung ke desa-desa. Tak peduli hujan dan sinar matahari, bila diperlukan masyarakat, ia akan segera datang. Semuanya ia lakukan dengan sepenuh hati, padahal tanpa bayaran. “Rasanya senang saja,” ujarnya.
Nur mengajak warga sekitar untuk menghijaukan kembali tanah di sekitar sumber air. Kebanyakan dianjurkan agar menanam pohon kepuh, trembesi, kluwih, beringin dan mahoni. Tanaman itulah yang menyimpan air hujan, sehingga sumber air tetap lestari.
Sejak enam tahun lalu, nur telah berhasil menanam sekitar 15 ribu pohon. Kini hasil kerja keras Nur telah banyak dinikmati banyak orang. Saat mengunjungi salah satu sumber air di Dusun Pojok, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, akan tampak terlihat rimbun pohon nangka, kluwih, sukun, dan trembesi. Sebagian pohon mulai berbuah. Sumber yang semula kecil, kini membesar. “Ini berkat jasa Mbak Nur. Dulu sumber air ini hampir mati. Berkat sumber air ini, lahan yang semula tidak produktif menjadi produktif. Penghasilan warga-pun meningkat,” kata Kamdi, petani di Dusun Pojok.
Tidak seperti LSM pada umumnya, yang mendapatkan kuncuran dana dari funding. Nur benar-benar mandiri. Segala biaya keluar dari koceknya. Hanya kadang ia minta bantuan bibit dari instansi Pemerintah dan masyarakat. Misalnya, ia sedang melakukan pembibitan 3000 buah srikaya. Bibitnya memang berasal dari masyarakat, sedangkan biaya penanamannya ia tanggung sendiri. Kelak bibit ini akan dikembalikan kepada masyarakat secara gratis. Tentunya, semua pengorbanan yang dilakukan oleh Nur dibalas oleh Sang Maha Kuasa dengan penghargaan Kalpataru, ditambah sejumlah uang lima juta.

H. PENUTUP
Sebagai seorang muslim, memang seharusnya kita menanamkan prinsip Khairunnaas anfa’uhum linnaas..(Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain). Apapun ilmu pengetahuan dan keterampilan yang kita miliki akan lebih jauh bermanfaat jika kita salurkan ke sesama. Hal ini kita bisa kita terapkan lewat pemberdayaan masyarakat di lingkungan sekitar. Bentuk pemberdayaan disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat dan analisis solusi permasalahan secara tepat.

I. DAFTAR PUSTAKA
Istiarti, V.G Tinuk, Priyadi N, Laksmono W, Emmy R. 2009. Pemberdayaan Masyarakat. Semarang: Undip Press.
http://www.pemberdayaan.com/pembangunan/pemberdayaan-enabling-empowering-and-protecting.html#more-90. Diakses pada tanggal 23 April 2012.
http://www.pemberdayaan.com/pemberdayaan/pemberdayaan-masyarakat-adat-dan-tantangannya.html. Diakses pada tanggal 23 April 2012.
http://www.sarjanaku.com/2011/09/pemberdayaan-masyarakat-pengertian.html. Diakses pada tanggal 23 April 2012.


Oleh: Ania Maharani, SKM
Source: http://dkijakarta.bkkbn.go.id/Lists/Artikel/DispForm.aspx?ID=21

Tuesday, October 8, 2013

Daftar Kalori Makanan

 
Source: carapedia

Kalori adalah satuan unit yang digunakan untuk mengukur nilai energi. Kandungan kalori dalam makanan tergantung pada kandungan karbohidrat, protein dan lemak yang terdapat pada makanan tersebut. Lemak menghasilkan kalori paling banyak, yaitu 9 kalori / gram. Sedangkan karbohidrat dan protein mengandung 4 kalori setiap gramnya. Makanan yang mengandung banyak lemak adalah makanan yang mengandung tinggi kalori. Sebaliknya, makanan yang mengandung air tinggi seperti buah - buahan dan sayuran memiliki kadar kalori yang rendah.
 
Berikut ini adalah daftar kalori makanan:
 
DAFTAR TABEL KALORI & UNIT
Makanan Pokok Golongan A
Nama Masakan
Berat (gr)
Kalori
Unit




Jagung Rebus
250
90,2
1
Kentang Rebus
200
166
2
Ketan Putih
120
217
2,75
Ketupat
160
32
0,5
Lontong
200
38
0,5
Nasi Putih
100
175
2,25
Nasi Putih Kentucky
225
349
4,25
Roti Tawar Serat Tinggi
60
149
1,75
Singkong Rebus
100
146
1,75
Talas Rebus
100
98
1,25
Ubi Rebus
100
125
1,5




Makanan Pokok Golongan B




Bubur
200
44
0,5
Crakers
50
229
2,75
Makaroni
25
91
1,25
Mie Instant
50
168
2
Nasi Tim
100
88
1
Nasi Uduk
200
506
6,25
Roti Tawar
50
128
1,5




Makanan Pokok Golongan C




Bihun Goreng
150
296
3,75
Bubur Ayam
200
165
2
Bubur Sum-Sum
100
178
2,25
Kentang Goreng
150
211
2,75
Mie Goreng
200
321
4
Nasi Goreng
100
267
3,25
Soun Goreng
100
263
3,25
Spaghetti
300
642
8
Tape singkong
150
260
3,25

Lauk Pauk Golongan A
Nama Masakan
Berat (gr)
Kalori
Unit




Arsik
95
94,05
1
Ayam Bakar Bumbu Kuning
100
129,4
1,5
Ayam Panggang
100
164,3
3,25
Daging Panggang
70
150
1,75
Ikan Mas Pepes
200
143,5
1,75
Sambal Goreng Tempe
50
116
1,5
Telur Asin Rebus
75
138
1,75
Telur Ayam Rebus
60
97
1,25
Udang Rebus
100
91
1,25




Lauk Pauk Golongan B




Ati Ayam Goreng
50
98
1,25
Ayam Pop
200
265
3,25
Bakso Daging Sapi
100
260
3,25
Empal Daging
100
147
1,75
Ikan Bandeng Goreng
160
180,7
2,25
Ikan Baronang Goreng
120
107,5
1,25
Ikan Bawal Goreng
120
113,3
1,5
Ikan Ekor Goreng
100
107,8
1,25
Ikan Kembung Goreng
80
87,65
1
Ikan Lele Goreng
60
57,5
0,75
Ikan Patin Goreng
200
252,7
3
Ikan Selar Goreng
40
63,75
0,75
Ikan Tenggiri Goreng
60
85,3
1
Ikan Teri Goreng
50
66
0,75
Ikan Tuna Goreng
60
110
1,25
Kerang Rebus
100
59
0,75
Macaroni Schootel
50
177
2,25
Tahu Bacem
100
147
1,75
Telur Mata Sapi
60
40
1,75
Tempe Bacem
50
157
2
Tempe Goreng
50
118
1,5
Tenggiri Bumbu Kuning
90
94,4
1
Udang Goreng Besar
80
68,25
3,25




Lauk Pauk Golongan C




Abon Sapi
50
158
2
Ayam Goreng Kecap
75
358,8
4,5
Ayam Panggang
80
385,6
4,75
Chiken Wing / Sayap Ayam
50
63,6
0,75
Daging Balado
50
147
1,75
Dendeng Balado
40
338
4,25
Gulai Ayam
100
165,3
2
Gulai Cumi
100
183
2,25
Gulai Kepala Ikan Kakap
320
218,8
2,75
Gulai Limpa
60
294
3,5
Gulai Tunjang
80
251
3
Ikan Kembung Balado
125
236,7
3
Ikan Teri
50
213
2,75
Kakap Goreng Tepung
80
119
1,5
Kakap Panir
75
220
2,75
Keripik Tempe
25
68
0,75
Meat Ball / Daging Cincang Bulat
50
168
2
Ayam Kentucky Paha Atas
150
194,5
2,5
Perkedel Jagung
50
108
1,25
Perkedel Kentang
50
123
1,5
Pu Yung Hai
50
114
1,5
Rendang Daging
75
285,5
3,5
Sate Ayam
100
466
6
Ayam Kentucky Sayap
150
116
1,5
Semur Ayam
50
177,8
2,25
Sambal Goreng Ati + Kentang
100
127
1,5
Sambal Goreng Tempe Teri
150
276
3,5
Sambal Goreng Ati Sapi
100
200
2,5
Sambal Goreng Udang + Kentang
100
123
1,5
Sop Sapi
260
227
2,75
Tahu Goreng
100
111
1,5
Tahu Isi
150
124
1,5
Tahu Sumedang
100
113
1,5
Telur dadar
75
188
2,25

Sayuran Golongan A



Nama Masakan
Berat(gr)
Kalori
Unit




Acar Kuning
75
53
0,5
Bening Bayam
50
18
0,25
Cah Labu Siam
100
41,6
0,5
Sayur Asam
100
88
1
Sop Ayam Kombinasi
100
95
1,25
Sop Bayam
50
78
1
Sop Kimlo
100
104
1,25
Sop Mutiara Jagung
100
113
1,5
Asop Oyong Misoa
100
106
1,25
Sop Telur Putuh
100
116
1,5




Sayuran Golongan B




Sayur Lodeh
100
61
0,75
Cah Jagung Putren
100
59
0,75
Cah Jkacang Panjang
100
72
1
Sop Oyong Telur Puyuh
100
134
1,75
Setup Kentang Buncis
100
95
1
Tumis Buncis
100
52
1,5
Tumis Daun Singkong
120
151
1,75
Tumis Kc. Panjang + Jagung
125
118
1,75




Sayuran Golongan C




Buntil
100
106
1,25
Gudeg
150
132
1,75


Minuman Golongan A




Nama Minuman
Berat(gr)
Kalori
Unit




Te'h (Cangkir)
1
0,4
2,8
Kopi (Cangkir)
1
18
0,25
Juice Tomat (Gelas)
100
20
0,25
Juice Melon (Gelas)
150
35
0,5




Minuman Golongan B




Es Kelapa Muda (Gelas)
100
42
0,5
Es Cendol
100
168
2
Susu Skim
15
54
0,75
Coca Cola Diet (Kaleng)
1
1
0



Masakan Siap Saji Golongan A




Nama Masakan
Berat(gr)
Kalori
Unit




Asinan
250
208
2,5
Toge Goreng
250
243
3




Masakan Siap Saji Golongan B




Gado - Gado
150
295
3,75
Ketoprak
250
153
2
Pempek
200
384
4,75
Rawon
160
331
4
Soto Ayam
100
101
1,25
Soto Padang
100
127
1,5
Tongseng
120
331
4

Masakan Siap Saji Golongan C




Hamburger
125
257
3,25
Kerupuk Palembang
50
168
2
Kerupuk Udang
20
72
1
Mie Bakso
200
302
3,75
Nasi Tim Ayam
420
588
7,25
Pizza
125
163
2
Sate Kambing
180
729
9
Sayur Krecek
175
249
3
Siomay
100
361
3,75
Soto Betawi
150
135
1,75
Soto Makasar
150
525
6,5
Soto Sulung
150
86
1


Buah -Buahan Golongan A




Nama Masakan
Berat(gr)
Kalori
Unit




Apel
160
92
1
Apel Merah
140
82
1
Belimbing
160
80
0,75
Duku
200
81
1
Jambu Air
60
35,4
0,5
Jambu Biji
320
157
2
Jeruk Medan
140
46
0,5
Jeruk Pontianak
150
67
0,75
Jeruk Sunkist
200
40
0,5
Mangga Manalagi
100
72
1
Nanas
200
104
1,25
Pepaya
100
46
0,5
Pir
200
80
1
Pisang Rebus
125
136,5
1,75
Salak
150
63,6
0,75
Semangka
150
48
0,5




Buah - Buahan Golongan B




Alpukat
100
85
1
Anggur
125
60
0,75
Lengkeng
100
79
1
Melon
120
46
0,5
Mangga Harum Manis
300
90
1
Pir Hijau
200
105
1,25
Pisang Ambon
100
74,2
1
Pisang Barangan
200
236
3
Pisang Mas
125
11
1,5
Pisang Raja
150
126
1,5
Sirsak
125
55
0,25




Buah - Buahan Golongan C




Durian Montong
100
134
1,5
Rambutan
100
69
0,75
sawo
100
92
1,75


Makanan Ringan Golongan A




Nama Masakan
Berat(gr)
Kalori
Unit




Arem - Arem
75
225
2,75
Bubur Kacang Ijo
100
102
1,25
Ketupat Ketan
120
216
2,75
Lemper
70
247
3
Lepet
120
210
2,5
Lepet Ketan
170
346
4,25




Makanan Ringan Golongan B




Bolu Gulung
110
300
3,75
Cakwee
50
143
1,75
Getuk Lindri
60
127
1,75
Hot Dog
100
285
3,5
Kerak Telur
120
599
7,5
Kue Nagasari
70
149
1,75
Kue Pancong
80
231
3
Mini Croissant
80
406
5
Sandwich
100
164
2
Serabi Pandan
60
137
1,75
Semar Mendem
100
247
3
Uli + Tape Ketan
160
559
7




Makanan Ringan Golongan C




Bakpia
25
68
1
Bakwan
100
270
3,25
Bika Ambon
50
99
1,25
Black Forrest
200
585
7,5
Cara Bikang
70
128
1,5
Cheese Cake
10
281
3,5
Dunkin Donat Keju
170
283
3,5
Emping Melinjo Asin
25
173
2,25
Kastengels (10 bh)
100
426
5,75
Keju Lembaran (1bh)
20
65
3,25
Kerupuk Mie
25
119
1,5
Klepon
60
68
0,75
Kroket Kentang
75
146
1,25
Kue Ape
60
151
2
Kue Cubit
60
183
2,25
Kue Cucur
90
152
2
Kue Ku
50
237
3
Kue Lumpur
80
232
3
Kue Pukis
40
181
2,25
Lapis Legit
50
307
3,75
Lemet/Timus
120
603
7,5
Lopis Ketan
125
350
4,25
Lumpia
60
76
1
Martabak Keju
100
265
.3.25
Martabak Mesir
100
200
2,5
Martabak Telur
95
196
2,5
Muffin Coklat
80
361
4,5
Muffin Keju
80
400
5
Nastar (7bh)
150
538
6,75
Onde - Onde
65
317
4
Pastel
75
302
3,75
Potato Chip
170
298
3,75
Putu Mayang
120
98
1,25
Rempeyek Kacang
50
250
3
Risol
100
247
3
Roti Coklat
100
240
3
Sosis Solo
50
191
2,25
Sus Vla
85
129
1,5
Talam Hijau
70
292
3,5