Perhatian terhadap pentingnya komitmen dalam organisasi telah berkembang
menjadi dua aliran pemikiran. Aliran pemikiran pertama adalah pendekatan dari
kontrol ke pendekatan komitmen yang dipelopori oleh Walton, yang melihat
strategi komitmen sebagai suatu pendekatan yang lebih bersifat imbalan pada
pengelolaan sumber daya manusia. Menurut aliran pertama ini bahwa kinerja
karyawan meningkat jika pendekatan yang berorientasi pada kontrol dihilangkan
dalam mengelola karyawan dan diganti dengan strategi komitmen. Aliran pemikiran
kedua adalah keunggulan bangsa Jepang yang telah sukses memotivasi karyawan
dengan mendapatkan komitmen yang penuh dari karyawan terhadap nilai-nilai
organisasi, yang mana pendekatan ini disebut juga hearts and minds approach.
[4]
Esensi komitmen adalah menjadikan sasaran karyawan dan sasaran perusahaan
menjadi satu dan sama. Keterikatan yang kuat dengan sasaran kelompok apabila
sasaran-sasaran itu sangat selaras dengan sasaran karyawan. Mereka yang
menghargai dan berpegang teguh kepada misi perusahaan bersedia untuk tidak
hanya berusaha sepenuh hati atas nama perusahaan, tetapi juga berkorban bilamana
itu diperlukan. Karyawan yang terinspirasi oleh sasaran bersama seringkali
tingkat komitmennya lebih tinggi dibanding komitmen yang datang karena insentif
finansial.
[5]
Komitmen dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu: visibilitas, ketegasan,
keteguhan perilaku, dan kemauan pribadi. Pertama adalah visibilitas, merupakan
perilaku yang dapat diamati oleh orang lain. Cara sederhana untuk membuat
individu mempunyai komitmen pada organisasi adalah dengan melihat dukungannya
kepada organisasi beserta tujuan-tujuannya. Visibilitas harus dikombinasikan
dengan ketegasan. Kedua adalah ketegasan, berarti individu tidak dapat
menyangkal perilaku yang terjadi. Ketegasan perilaku tergantung pada dua
faktor, ialah dapat diamati dan jelas atau tidak samar-samar. Kalau perilaku
yang tidak dapat diamati kecuali dengan cara merujuk maka hal ini kurang jelas.
Ketiga adalah keteguhan perilaku, yakni perilaku adalah permanen, tidak dapat
ditarik kembali atau dibatalkan. Keempat adalah kemauan pribadi yang mengikat
karyawan pada tindakannya, yakni tanggung jawab pribadi.
[6]
Tingkat kemauan dari tindakan berhubungan dengan (1) pilihan, (2) adanya
tuntutan eksternal untuk bertindak, (3) adanya dasar ekstrinsik untuk
bertindak, dan (4) adanya kontributor lainnya untuk bertindak.
[7]
Dessler mengatakan bahwa penciptaan komitmen membutuhkan suatu program yang
komprehensif sehingga dia mempertanyakan harus mulai dari mana. Secara ringkas
Dessler menguraikan komitmen dalam suatu rangkaian yang disebut commitment
wheel (roda komitmen) yang terdiri dari delapan unsur pokok yang perlu
dilakukan perusahaan.
1. Nilai-nilai yang mengutamakan manusia (people-first values). Untuk melembagakan
nilai-nilai ini diperlukan empat langkah.
a. Proses awal untuk menciptakan komitmen dengan meyakinkan bagaimana pandangan
manajemen puncak terhadap karyawan, harus meletakkan karyawan sebagai yang
utama dalam setiap tindakan, setiap proses perencanaan, dan setiap keputusan
bisnis yang dibuat.
b. Nilai-nilai yang mengutamakan karyawan dibuat secara tertulis.
c. Merekrut karyawan yang mempunyai nilai-nilai kemanusiaan sejak awal.
Menyusun prosedur wawancara untuk menolak orang yang tidak mempunyai ketrampilan
dan nilai-nilai untuk melaksanakan pekerjaan.
d. Menterjemahkan nilai-nilai yang mengutamakan karyawan ke dalam bentuk
tindakan.
2. Komunikasi dua arah secara
terbuka dan jujur yang membantu membangun kepercayaan. Untuk melaksanakan ini
maka perusahaan perlu melembagakan prosedur-prosedur yang menjamin perlakuan
yang adil bagi semua karyawan dalam mengatasi keluhan dan masalah-masalah
disiplin.
3. Penciptaan rasa kebersamaan di antara karyawan sebagai suatu bagian dari
masyarakat yang kohesif dan merasa senasib.
4. Perumusan idiologis, misi, dan nilai-nilai serta mekanisme untuk
mengkomunikasikan nilai-nilai kepada karyawan.
5. Merekrut karyawan yang didasarkan atas nilai dengan memilih karyawan yang
mempunyai nilai-nilai yang sesuai dengan perusahaan. Untuk melaksanakan ini
dengan mengklarifikasi idiologi perusahaan sehingga unsur-unsurnya dapat
diterjemahkan ke dalam pertanyaan, ujian, atau latihan yang konkrit yang
merupakan bagian dari proses seleksi perusahaan.
6. Memperjelas komitmen untuk memberikan rasa aman kerja kepada karyawan.
Melembagakan praktek-praktek perusahaan yang memberikan kemudahan memperoleh
rasa aman kerja pada karyawan.
7. Menawarkan paket imbalan di atas rata-rata yang dikombinasikan dengan
imbalan dan manfaat-manfaat lainnya. Membangun suatu paket kompensasi.
Menekankan pada pelaporan jam kerja sendiri dibandingkan menggunakan jam kerja
perusahaan.
8. Berusaha melaksanakan praktek-praktek yang bertujuan untuk menjamin bahwa
semua karyawan mempunyai peluang untuk menggunakan semua ketrampilan dan
kemampuannya di tempat kerja.[8]
Namun seperti yang dikritisi oleh Armstrong bahwa dalam konsep komitmen
terdapat tiga masalah utama, yaitu: (1) adanya penyederhanaan dalam menerima
konsep komitmen sebagai suatu kerangka pikir yang sama (unitary frame of
reference) dan ini merupakan asumsi yang tidak realistis karena suatu
organisasi terdiri dari berbagai kepentingan manusia; (2) komitmen sebagai
penghambat fleksibelitas, karena karyawan terikat dengan seperangkat nilai dan
tujuan sehingga mereka tidak mampu mengatasi kebingungan dan ketidakpastian
yang terjadi dalam kehidupan organisasi. Akibatnya, kecocokan karyawan dengan
nilai yang dipaksakan akan menghambat pemecahan masalah yang bersifat kreatif,
resistensi terhadap perubahan dan tingkat stres tinggi, (3) terdapat suatu
keyakinan nilai positif dari komitmen bahwa karyawan yang mempunyai komitmen
tinggi berhubungan dengan tingkat perpindahan dan absensi karyawan yang rendah.
[9]
McKinsey & Company telah mengembangkan model komitmen yang disebut the five
key commitments model.
[10]
Grup konsultan ini mengatakan bahwa para manajer yang unggul dapat menciptakan
kesan yang kuat dan positif dari orang lain karena mereka menggabungkan
serangkaian keyakinan yang positif dengan perilaku yang positif pula.
Berdasarkan model komitmen tersebut terdapat
lima jenis komitmen yang pokok, yaitu:
1. Komitmen Kepada Nasabah
Komitmen manajemen yang paling penting adalah komitmen kepada nasabah.
Manajer yang unggul berusaha untuk
memberikan pelayanan yang baik kepada nasabah. Nasabah di sini diartikan
sebagai siapa saja yang seharusnya berhak mendapatkan manfaat dari pekerjaan
yang dilakukan oleh manajer unit. Pengertian nasabah di sini baik yang berada
di dalam perusahaan, disebut nasabah internal, maupun yang berada di luar
perusahaan, disebut nasabah eksternal. Ada dua cara yang dapat dilakukan oleh
manajer unggul yang menunjukkan komitmen kuat kepada nasabah, yakni: melayani
nasabah dan membangun akan pentingnya nasabah melalui (1) pada tahap awal
mengkomunikasikan pentingnya nasabah kepada para karyawan, (2) memperlakukan
nasabah sebagai prioritas yang utama, dan (3) melarang memberikan komentar destruktif
tentang orang yang menggunakan produk atau jasa kelompok kerja mereka.
2. Komitmen Kepada Organisasi
Seorang manajer secara positif menunjukkan komitmennya kepada organisasi dalam
tiga cara: (1) membangun organisasi, (2) mendukung manajemen yang lebih tinggi,
dan (3) melaksanakan nilai-nilai dasar organisasi.
3. Komitmen Kepada Diri Sendiri
Manajer yang unggul menunjukkan citra yang kuat dan positif terhadap orang
lain. Manajer yang baik dilihat sebagai individu yang menggabungkan kekuatan
dengan rasa rendah hati. Komitmen kepada diri sendiri dibuktikan dalam tiga
kegiatan yang pokok: (1) menunjukkan otonomi, (2) membangun diri sebagai
seorang manajer (karyawan), dan (3) menerima kritik yang konstruktif.
4. Komitmen Kepada Anggota Kelompok
Para manajer yang unggul memperlihatkan dedikasi kepada orang yang bekerja
untuknya. Komitmen ini menunjukkan manajer menggunakan gaya kepemimpinan yang
tepat untuk membantu para individu agar sukses dalam tugasnya. Ada tiga
kegiatan pokok yang menunjukkan seseorang mempunyai komitmen ini: (1)
menunjukkan adanya pengakuan dan kepedulian yang positif, (2) memberikan umpan
balik yang bersifat membangun, dan (3) mendorong gagasan-gagasan yang inovatif.
5. Komitmen Kepada Tugas
Para manajer yang sukses memberikan makna dan relevansi kepada tugas yang
dilaksanakan. Mereka memberikan fokus dan arah, serta menjamin penyelesaian
tugas dengan sukses. Komitmen ini dicapai dengan: (1) menjaga agar tetap fokus,
(2) menjaga agar tetap sederhana, (3) berorientasi pada tindakan, dan (4)
membangun akan pentingnya tugas.[11]
Komitmen berhubungan dengan pekerjaan dalam berbagai bentuk seperti pekerjaan,
karir, profesional, organisasional, dan sebagainya. Dalam konteks pembahasan
komitmen ini difokuskan pada satu konstruk komitmen organisasional. Komitmen
organisasional didefinisikan sebagai suatu derajad identifikasi psikologis atau
kelekatan dengan organisasi di mana karyawan bekerja. Komitmen organisasi
berkaitan dengan faktor pribadi dan faktor organisasi.
Para
karyawan yang berusia lebih tua dan telah bekerja lebih dari dua tahun serta
mempunyai kebutuhan tinggi untuk berprestasi adalah sangat mungkin memiliki
komitmen organisasional yang tinggi.
[12]
Selanjutnya, komitmen organisasional didefinisikan sebagai suatu keadaan yang
mana seorang karyawan mengidentifikasikan diri dengan organisasi tertentu
beserta tujuan-tujuannya dan mau menjaga keanggotaannya di dalam organisasi
tersebut.
[13]
Komitmen organisasional juga diartikan sebagai ikatan psikologis individu
dengan organisasi, termasuk keterlibatan dalam pekerjaan, loyalitas, dan
keyakinan pada nilai-nilai organisasi. Dalam konteks ini terdapat tiga proses
atau tahap dari komitmen: kepatuhan, identifikasi, dan internalisasi. Pertama,
tahap kepatuhan seseorang menerima pengaruh dari orang lain agar dapat
memperoleh sesuatu dari orang tersebut, seperti upah atau gaji. Kedua, tahap
identifikasi individu menerima pengaruh agar supaya dapat menjaga hubungan yang
menyenangkan. Karyawan merasa bangga berada di dalam perusahaan itu. Ketiga,
tahap internalisasi individu menemukan bahwa nilai-nilai organisasi secara
intrinsik memberi imbalan dan cocok dengan nilai-nilai pribadi karyawan.[14]
Definisi lainnya adalah komitmen organisasional diartikan sebagai suatu
himpunan dari perasaan dan keyakinan yang dimiliki manajer tentang
organisasinya secara keseluruhan.
[15]
Siegel dan Lane mendefinisikan komitmen organisasional sebagai kekuatan relatif
identifikasi dan keterlibatan seorang individu dengan suatu organisasi
tertentu.
[16]
Model komitmen organisasional terdiri dari empat kategori yang disebut
antecedents of organizational commitments.
1. Karakteristik pribadi. Komitmen organisasional umumnya lebih tinggi pada
karyawan yang berusia lebih tua dan masa kerjanya lebih lama. Karyawan yang
mempunyai nilai kerja instrinsik adalah lebih terikat. Sebagai suatu kelompok,
karyawan wanita cenderung lebih terikat kepada organisasi dibandingkan dengan
karyawan pria, dan karyawan yang kurang berpendidikan juga cenderung lebih
berkomitmen dibandingkan dengan karyawan yang berpendidikan tinggi.
[17]
2. Karakteristik pekerjaan. Komitmen organisasional cenderung lebih kuat di
antara karyawan pada pekerjaan yang menantang dan pada pekerjaan yang tingkat
konflik serta ketidakjelasannya rendah.
[18]
3. Karakteristik struktural. Komitmen organisasional lebih kuat pada karyawan
di perusahaan yang dimiliki karyawan dan pada organisasi yang bersifat
desentralistik, yang lebih banyak terlibat di dalam pembuatan keputusan krusial
bagi organisasi.
[19]
4. Pengalaman pekerjaan. Komitmen organisasional cenderung lebih kuat pada
karyawan yang mempunyai pengalaman kerja menarik di tempat kerja seperti sikap
rekan kerja yang positif, perasaan terhadap organisasi yang memenuhi harapan
karyawan, perasaan bahwa organisasi dapat dipercaya untuk memenuhi komitmennya
kepada karyawan, dan perasaan bahwa karyawan dinilai penting bagi organisasi.
Kemudian karyawan menunjukkan lebih berkomitmen bilamana perusahaan mempunyai prosedur
rekrutmen dan orientasi yang dikembangkan dengan baik serta sistem nilai
organisasi yang didefinisikan dengan baik.
[20]
Secara singkat dapat dikatakan bahwa faktor kepribadian dan situasional
berpotensi untuk mempengaruhi komitmen organisasional. Misalnya karyawan yang
berkomitmen menunjukkan perilaku bertanggung jawab secara sosial, memberikan
kontribusi kepada masyarakat, dan kepeduliannya pada nilai-nilai serta sesama
karyawan makin meningkat.
[1]Michael Armstrong, Personnel Management Practice (London: Kogan Page, 1995),
p. 173.
[2]Gerald R. Salancik,
“Commitment and the Control of Organizational Behavior and Belief,”
Psychological Dimensions of Organizational Behavior, ed. Barry M Staw (New
Jersey: Prentice-Hall, Inc., 1995), p. 284.
[3]Mark Graham Brown, Darcy
E. Hitchcock dan Marsha L. Willard, Why TQM Fails and That to Do About It (New
York: Richard D. Irwin, Inc., 1994), p. 5.
[4]Ibid., pp. 174-175.
[5]Daniel Goleman,
Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi, terjemahan Alex Tri Kantjono
Widodo (Jakarta: PT Gramedia, 1999), pp. 191-192.
[6]Margaret A. Neale dan Gregory B. Northcraft, “Factors Influencing
Organizational Commitment,” Motivation and Work Behavior, ed. Richard M. Steers
dan Lyman W. Porter (Singapore: McGraw-Hill, Inc., 1991), pp. 290-296.
[7]Salancik,
op. cit., pp. 285-286.
[8]Dessler,
op. cit., pp. 153-162.
[9]Armstrong,
op. cit., pp. 175-177.
[10]Paul Hersey,
Kenneth H. Blanchard dan Dewey E. Johnson, Management of Organizational
Behavior: Utilizing Human Resources (New Jersey: Prentice-Hall, Inc., 1996), p.
446.
[11]Ibid., pp. 447-453.
[12]Ibid., pp. 447-453.
[13]Stephen P. Robbins,
Organizational Behavior: Concepts, Controversies, and Applications (New Jersey:
Prentice-Hall, Inc., 1998), p. 142.
[14]Charles O’Reilly,
“Corporations, Culture, and Commitment: Motivation and Social Control in
Organizations,” Psychological Dimensions of Organizational Behavior, ed. Barry
M Staw (New Jersey: Prentice-Hall, Inc., 1995), p. 322.
[15]Jones, George dan
Hill, op. cit., p. 349.
[16]Laurence Siegel dan
Irving M. Lane, Personnel and Organizational Psychology (Illinois: Irwin,
1987), p. 440.
[17]Cherrington, op.
cit., p. 276.
[18]Ibid., p. 276.
[19]Ibid., p. 276.
[20]Ibid., p. 276.